Partisipasi Masyarakat di Pasar Modal Masih Rendah

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA (KRjogja.com) – Kemajuan teknologi berdampak positif pada perekonomian Indonesia, mulai dari industri telekomunikasi, gadget, ritel, hingga keuangan. Namun, penetrasi kemajuan teknologi yang pesat di dunia gadget dan telekomunikasi, tidak sebanding dengan penetrasi di industri pasar modal.

"Lihat saja, jumlah investor di pasar saham atau reksadana kenaikannya tidak setinggi pertumbuhan penjualan gadget atau pelanggan operator selular," kata Teguh B. Ariwibowo, inisiator Indonesia Fintech Forum.

Hal itu terungkap dalam Indonesia Fintech Forum tergerak melakukan forum kegiatan untuk mencari solusinya. Indonesia Fintech Forum Vol. 03 diselenggarakan tepat satu tahun dari Indonesia Fintech Forum (IFF) yang pertama tahun 2015.

Tema yang diusung forum IFF Vol.3 adalah “How Robo Advisor impact the Future of Investing?” Di event ini, IFF bertujuan mencari solusi untuk menjawab rendahnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal, baik partisipasi secara langsung maupun partisipasi tidak langsung melalui reksadana.

Bekerja sama dengan asosiasi Fintech Indo, Indonesia Fintech Forum akan terus menyelenggarakan event rutin yang tentunya tujuan besarnya adalah terus meningkatkan kolaborasi dan kerja sama di antara para stakeholder yang ada. Hadir juga Aji Satria Sulaeman, Director of Public Policy Asosiasi Fintech Indonesia; Mohamad Andoko, Presdir PT Cerdas Keuangan Indonesia, Komisaris OneShildt Financing Planning; dan Ibnu Ulinnuha, Founder dan CEO Dompetsehat.

Berdasarkan hasil survei nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2013, penetrasi pasar modal di masyarakat masih sangat rendah jika dibandingkan produk jasa keuangan lainnya yakni hanya 3,7% atau dari 100 orang hanya 3-4 orang yang memahami produk-produknya.

Akibatnya, produk-produk investasi pasar modal menjadi kurang dikenal, sehingga masyarakat hanya mengetahui investasi riil seperti memiliki tanah, rumah, dan usaha. Padahal, jika masyarakat paham, maka akan banyak pilihan untuk berinvestasi, atau tidak sebatas menabung di bank maupun properti saja.

Berdasarkan survei OJK tahun 2013 itu, diketahui bahwa penetrasi pasar modal di Indonesia hanya 3,7% atau menjadi yang terendah jika dibandingkan lima produk jasa keuangan lainnya, yakni perbankan (21,8%), asuransi (17,08%), pegadaian (14,85%), pembiayaan (9,8%), dan dana pensiun (7,13 %).

Mengenai literasi keuangan Indonesia, tingkat inklusi keuangan di Indonesia hanya 59,74% di mayoritas oleh sektor perbankan. Sedangkan untuk kelompok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), tingkat literasi keuangan cuma 15,68%. (*)

BERITA REKOMENDASI