Penyebar Berita Hoax Diburu

YOGYA (KRjogja.com) – Polisi sekarang sedang memburu penyebar berita hoax atau bohong tentang kondisi Yogya tidak aman. Padahal dalam rencana aksi demontrasi oleh mahasiswa Papua di Jalan Kusumanegara beberapa hari yang lalu tidak ada kekerasan dan kerusuhan.  

Karo Ops Polda DIY Kombes Pol Bambang Kristiwanto SIK didampingi Kapolresta Yogya Kombes Pol Tommy Wibisono SIK menyatakan, berita yang beredar di media sosial itu sangat menyesatkan dan bohong. Untuk itu, polisi sedang memburu penyebar berita hoax melalui media sosial maupun broadcast.  

"Memang ada beberapa pihak sengaja menebar isu dengan tujuan memperkeruh keadaan. Sehingga dalam berita bohong itu, Yogya sedang tidak aman dan lainnya. Padahal realita di lapangan, tidak ada apa-apa, " katanya kepada wartawan, Selasa (19/7/2016) di Mapolresta.  

Dikatakan, pada 15 Juli 2015 polisi memang melakukan pengamanan di Asrama Papua karena ada rencana orasi dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang diduga mengarah ke gerakan separatis ke Titik Nol. Untuk itu polisi melakukan pengamanan agar mahasiswa tidak keluar dari asrama.  

"Dengan pengaman yang sesuai prosedur, akhirnya meraka tidak keluar asrama mahasiswa. Bahkan tidak ada pengibaran bendera selain merah putih maupun benda simbol separatis di lokasi. Jadi foto yang beredar di media sosial adanya simbol-simbol separatis jelas bohong," tegasnya.  

Memang polisi melakukan razia bagi orang-orang yang akan masuk ke asrama. Ada beberapa anak panah diamankan petugas dari mahasiswa yang hendak masuk ke asrama. Kemudian petugas juga memeriksa kelengkapan kendaraan.  

"Saat pemeriksaan kendaraan ada insiden, seorang mahasiswa melakukan pemukulan terhadap seorang perwira Polresta. Akhirnya ada 9 orang diamankan dan 1 orang menjadi tersangka tapi tidak dilakukan penahanan hanya wajib lapor saja," ujarnya.

Polisi juga membantah melakukan pengepungan yang mengakibatkan mahasiswa di asrama kelaparan. Polisi hanya melakukan pengamanan agar mahasiswa tidak melakukan orasi keluar. Sejumlah masih terlihat keluar masuk asrama dengan membawa makan dan minuman dari luar.  

"Itu tidak benar mereka kelaparan karena tidak ada makanan akibat dikepung polisi. Jelas-jelas mereka keluar masuk membawa makanan," ucapnya.  

Sedangkan Bidang Hukum dan Ambulan PMI Kota Yogya Edi Haryanto juga membantah mobil ambulan PMI dicegat petugas polisi saat akan mengantar makanan ke asrama mahasiswa Papua. Justru pihaknya berkoordinasi dengan aparat untuk memberikan makanan, namun pihak yang memesan makanan tidak bisa dihubungi. Karena sebelumnya ada seorang wanita bernama Erna menghubungi PMI minta bantuan makanan karena di asrama Papua kelaparan dan tidak bisa keluar.

"Begitu kami mau antar makanan, orang itu tidak bisa dihubungi. Karena kami juga takut dan khawatir kenetralan kami dimanfaatkan, akhirnya kami pulang. Kemudian malam harinya makanan itu baru diambil oleh orang tersebut, " kata Edi. (Sni)

BERITA REKOMENDASI