Polisi Sebut Fakta Baru TKP Dugaan Perkosaan Mahasiswi UGM

SLEMAN, KRJOGJA.com – Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda DIY Kombes Polisi Hadi Utomo Senin (21/1/2019) mengungkap fakta baru hasil penyelidikan lapangan Tempat Kejadian Perkara (TKP) dugaan pemerkosaan dan pencabulan mahasiswi UGM di Seram Barat Maluku. Polisi menemukan perbedaan antara narasi dalam berita Balairung dengan kondisi yang sebenarnya di lokasi kejadian. 

“Ada beberapa perbedaan antara yang dituliskan Balairung dengan apa yang saya lihat di lapangan. Saya kemarin Senin (14/1/2019) lalu langsung terbang ke Maluku, cukup jauh untuk sampai di lokasi memang sekitar satu hari. Dari Yogya ke Ambon, lalu Seram Barat dan ke kecamatannya, perlu satu hari,” ungkap Hadi ketika ditemui wartawan di Mapolda DIY. 

Dari penyelidikan lapangan tersebut, Hadi menyampaikan menemukan fakta baru yakni jarak pondokan laki-laki dan perempuan yang disampaikannya sekitar 50 meter hingga padatnya pemukiman warga yang dinilai berbeda dari narasi pemantik kasus tersebut yakni berita Balairung. “Jaraknya (pondokan laki-laki dan perempuan) hanya 50 meter, kalau dikatakan ada babi hutan itu tidak benar. Itu di perkampungan ramai orang, bukan hutan belantara. Katanya banyak babi hutan tapi tidak ada di sana, saya tanyai warga,” sambung dia. 

Meski demikian, polisi menurut Direskrimum mendapatkan fakta dari lima orang saksi yang dimintai keterangan di Seram Barat bahwa peristiwa dugaan perkosaan dan pencabulan yang terjadi sekitar Juli 2017 lalu benar terjadi. Masyarakat setempat yang dikumpulkan polisi pun mengamini meski kemudian menanyakan terkait sudah selesainya masalah tersebut sejak lama. 

“Kami periksa juga 5 orang saksi di sana, namun belum ada fakta baru. Total kami periksa 26 saksi termasuk pakar hukum dari Universitas Islam Indonesia, Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga Surabaya. Kami ingin kasus ini terang benderang,” sambungnya lagi. 

Polisi pun menampik adanya isu yang beredar akan menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) dugaan perkosaan tersebut pun dengan kriminalisasi pers mahasiswa Balairung. “Tidak ada itu SP3, kita sabar merangkai suatu perbuatan yang disangkakan ada tindak pidanannya. Saya harap berhenti menimbulkan isu yang tak benar, polemik berkepanjangan saja termasuk tidak ada lagi Agni, yang ada korban berinisial AL,” tegas Hadi. 

Hingga saat ini Polda DIY sudah memeriksa 26 saksi terkait kasus dugaan perkosaan mahasiswi Fisipol UGM. Dalam minggu ini Polisi bakal melakukan gelar perkara sebagai pintu masuk konstruksi lengkap peristiwa tersebut. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI