Resahkan Petani, Polres Klaten Bekuk Komplotan Pencuri Gabah

KLATEN, KRJOGJA.com – Komplotan pencuri spesialis gabah berhasil ditangkap jajaran Sat Reskrim Polres Klaten. Dua orang kini mendekam di sel tahanan Polres Klaten, dan seorang lainya masih dalam pengejaran.

Kasat Reskrim Polres Klaten AKP Andriansyah Rithas Hasibuan didampingi Kasubag Humas Iptu Nahrowi Rabu (29/1/2020) membenarkan penangkapan tersebut. Dua tersangka yang ditangkap terdiri Fr (22) dan Hp (25), keduanya warga Ampel, Boyolali. Komplotan ini telah beraksi di belasan tempat kejadian, sehingga cukup meresahkan petani.

Barang bukti yang berhasil diamankan berupa 1 unit mobil Suzuki ST 150-pick up bernomor polisi AD 1702 IM, 16 sak berisi gabah jenis mentik wangi setengah kering dengan berat 607 Kg, dan 6 lembar sak kosong. Para pelaku dijerat pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Tersangka Hp Mengaku baru sekali ikut komplotan tersebut. Semula ia hanya diajak untuk mencari jerami, namun akhirnya diajak mencuri gabah yang ditumpuk oleh petani di pinggir jalan dekat sawah tempat memanen.

Sekitar pukul 08.00 WIB, buruh bangungan ini dijemput oleh Fr dengan menggunakan mobil bak terbuka. Saat mencuri berhasil mendapatkan 6,5 karung berisi gabah. Hasil curian tersebut dijual ke daerah Salatiga. Hp mengaku tidak tahu berapa hasil penjualan, namun ia hanya diberi Rp 500 ribu dan habis untuk bersenang-senang. “Saya baru sekali ikut. Awalnya cari jerami, karena nggak dapat jerami terus ambil gabah,” kata Hp.

Korban pencurian, Wardoyo, penebas padi, warga Sidowayah, Polanharjo Klaten mengemukakan, empat kali mengalami pencurian. Dua perncurian pertama dan kedua ia lupa waktunya, namun untuk pencurian ketiga terjadi 28 Desember 2019. Kejadian keempat pada 20 Januari 2020. Setelah gabah dipanen dipindahkan dari sawah ke pinggir jalan. Tumpukan gabah biasanya diambil pada sore hari. Karena pekerja pemetik padi dipindahkan untuk memanen ke lokasi sawah lainnya, otomatis gabah yang ditumpuk di lokasi awal tidak ada yang menunggu, hanya sesekali dicek. Pada saat itulah komplotan pencuri beraksi.

Dari empat kali kejadian, Wardoyo mengaku mengalami kerugaian sebesar Rp 15 juta. “Yang terakhir gabah kita tinggal Jumatan. Pas sepi itu, gabah dicuri. Saya penebas, sudah bayar pada petani, tapi ga bisa bawa pulang gabah. Kejadian sampai empat kali, terus saya lapor polisi,” kata Wardoyo. (Sit)

BERITA REKOMENDASI