Sidang Kasus ‘Kutu Kupret’, Perdebatkan Status Badan Hukum Apkomindo

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Anggota Dewan Pertimbangan Asosiasi Apkomindo (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia) DKI Jakarta, Henkyanto Tjokroadhiguno mengaku membaca komentar yang ditulis FI dimana salah satu bagian tulisannya terdapat kata 'Kutu Kupret'. Henkyanto Tjokroadhiguno melihat komentar tersebut ditulis FI dalam akun Facebook Apkomindo.

Hal tersebut dikatakan Henkyanto Tjokroadhiguno dalam persidangan kasus penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Ketua DPP Apkomindo, Ir Soegiharto Santoso alias Hoky dengan terdakwa FI di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Kamis (14/11/2019). Henkyanto Tjokroadhiguno dihadir sebagai saksi yang meringankan terdakwa.

"Diupload di Facebook Apkomindo saja. Sepengetahuan saya Apkomindo saja," kata Henkyanto Tjokroadhiguno di hadapan majelis hakim yang diketuai Ida Ratnawati SH tersebut.

Ia mengatakan dalam komentar tersebut FI menuliskan kata 'Kutu Kupret' dan menyingkatnya menjadi 'KK'. Unggahan tulisan di media sosial tersebut menurut Henkyanto Tjokroadhiguno ditulis FI untuk mengomentari postingan dari Soegiharto Santoso dalam akun Apkomindo tersebut.

Kendati sempat melihat dan membaca, namun Henkyanto Tjokroadhiguno tak sempat menghitung berapa kali kata 'Kutu Kupret' dituliskan dalam komentar itu. Ia juga membenarkan adanya tulisan lain selain 'Kutu Kupret', seperti 'Karakter Destruktif' yang kemudian dipermasalahkan pula oleh Soegiharto Santoso.

"Saya tidak menghitung (berapa kali tertulis). (Kata) 'Kutu Kupret' dengan singkatan 'KK'," jelas Henkyanto Tjokroadhiguno.

Ia juga mengaku tak mengetahui sebenarnya 'Kutu Kupret' itu bermakna apa. Menurutnya setiap orang bisa saja berlainan makna dalam mengartikan 'Kutu Kupret', termasuk dirinya sendiri.

"Buat saya asing, tidak biasa saya dengar. Kalau saya ('Kutu Kupret' berarti) 'Pembuat Masalah', tapi dia (FI) keluarnya 'Kutu Kupret'. Bagi saya seperti pembuat masalah, 'Trouble Maker' menurut saya," imbuhnya.

Dalam sidang kali ini Hakim sempat beberapa kali menegur tim kuasa hukum terdakwa yang diketuai Iwan Setiawan SH maupun Jaksa Penuntut Umun (JPU) Retna Wulaningsih SH. Kedua pihak dinilai sering mamperdebatkan soal struktur organisasi di Apkomindo maupun status badan hukum asosiasi tersebut dari Kemenkum HAM.

Hakim meminta jalannya sidang tetap fokus pada pokok perkara yakni pelanggaran Undang-undang ITE. "Kita tetap pada pokok perkara yakni ITE," tegas Ketua Majelis Hakim, Ida Ratnawati SH.

Sidang akan dilanjutkan kembali Kamis (21/11/2019) mendatang. Agenda sidang berikutnya yakni mendengarkan keterangan saksi ahli yang akan dihadirkan tim kuasa hukum terdakwa.

Ditemui usai persidangan, Soegiharto Santoso menyatakan saksi dihadirkan pihak terdakwa menerangkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan perkara. Beberapa kali saksi menurutnya juga mengatakan sesuatu yang tidak ada buktinya dan justru dapat di ketegorikan sebagai memberikan keterangan palsu.

"Saksi mengatakan saya 'Troubel Maker' atau pembuat masalah, lalu beli barang dari Ega Komputer tapi tidak mau bayar, lalu mengatakan membuat LP ke Polres Jakarta Pusat. Padahal yang membuat LP bukan saya," kata Soegiharto Santoso.

Soegiharto Santoso menambahkan, saksi juga mengatakan jika dirinya mencuri akta pendirkan Apkomindo. "Sehingga Hakim Ketua bertanya kalau dicuri mengapa tidak dilaporkan ke Polisi? Keterangan saksi tidak konsisten dan banyak tidak benar," ujarnya. (*)

BERITA REKOMENDASI