Sidang Mediasi Arisan Hoki Kembali Gagal

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Untuk kesekian kalinya para korban Arisan Hoki gagal bertemu tergugat Gy dan Dt di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Selasa (29/06/2021). Pasalnya pasangan suami istri ini kembali untuk ketigakalinya tak hadir dalam persidangan yang sedianya mengagendakan mediasi tersebut.

Kuasa hukum para korban Arisan Hoki, Mahendra Handoko SH menyayangkan ketidakhadiran para tergugat. Bahkan ia menyebut apa yang dilakukan para tergugat ini bisa dikatakan mangkir. “Kali ini tanpa keterangan alias mangkir,” tegas Mahendra Handoko usai mengetahu sidang ditunda pekan depan.

Ia mengatakan sebenarnya para korban siap untuk mengikuti mediasi. Bahkan sejak awal pihaknya selalu membuka pintu untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan, namun tak pernah ada itikad baik dari para tergugat.

“Sebenarnya yang diinginkan para korban ini kan hanya satu, yaitu uang mereka kembali seperti yang dijanjikan dalam arisan. Tetapi itu juga tak dilakukan oleh mereka yang saat ini sebagai tergugat,” imbuhnya.

Mahendra Handoko juga mengatakan jika kedua tergugat beralasan tak hadir karena sedang menjalani isolasi karena positif Covid-19, maka ia ingin meminta bukti tes swab PCR untuk ditunjukan. Ia berharap pada persidangan berikutnya para tergugat dapat hadir untuk menjalani mediasi.

Sementara itu salah seorang korban Arisan Hoki, Lumintu warga Ngestiharjo Kasihan Bantul yang bekerja sebagai pedagang mengaku jauh-jauh datang ke pengadilan hanya untuk mengikuti mediasi ini. Bahkan ia rela tak berjualan hanya untuk mendapat kejelasan tentang uang arisan.

“Uang Rp 20 juta bagi dia mungkin tidak berarti, tapi untuk saya itu sangat berharga. Itu merupakan uang yang saya sisihkan dari pendapatan berjualan selama ini,” ungkapnya. (Van)

 

 

Sebenarnya pada mediasi ketiga tersebut para penggugat ingin menyampaikan kepada para tergugat bukti-bukti rekap kerugian sebagaimana yang diminta kuasa hukum tergugat. Salah satunya hasil pertemuan arisan Hoki di Kampung Matraman berupa resume kuasa hukum para tergugat terdahulu yang menyebutkan pihak owner arisan bersedia menutup jatuh tempo sampai tanggal 30 Januari 2021.
Bahkan para penggugat telah mengajukan dua kali somasi yang dijawab kuasa hukum sebelumnya mengakui tidak bisa membayar arisan dan akan membantu owner menjualkan tanah asetnya. Data-data tersebut sejatinya akan diajukan dalam mediasi tetapi tak jadi dilakukan karena tergugat maupun kuasa hukumnya tidak hadiri tanpa alasan hukum yang benar.

Sementara penggugat yang terdiri dari 17 orang peserta arisan Hoki didampingi kuasa hukumnya Marhendra Handoko SH sudah hadir sesuai jadwal yang ditentukan.

“Jika pekan lalu, tergugat, menurut kuasa hukumnya, positif Covid sehingga tidak hadir,untuk sidang mediasi, kali ini tanpa keterangan alias mangkir,” kata Mahendra.
Handoko S.H.

Hakim yang memimpin mediasi di PN Bantul pun memutuskan sidang ditunda lagi pekan depan.

“Saya memberi apresiasi kepada hakim mediasi yang memaksimalkan waktu. Sesuai UU maksimal mediasi adalah 30 hari sejak mediasi pertama atau pada pertengahan Juli mendatang,” ujar Mahendra.

 

 

 

 

Dalam sidang kemarin dari pihak tergugat hanya dihadiri kuasa hukum

 

Sungguh malang nasib para emak korban arisan online HOKI yang selama ini menuntut haknya dapat kembali.

Bak jatuh tertimpa tangga, upaya mediasi panjang yang ditempuh melalui Pengadilan Negeri (PN) Bantul demi uang mereka kembali dari arisan itu tak kunjung membuahkan hasil.

Sebab untuk ketiga kalinya sidang mediasi arisan Hoki yang digelar, Selasa (29/6/2021) di Pengadilan Negeri Bantul tak dihadiri tergugat.

Jadwal sidang dengan pokok perkara Nomor : 51/PDTG/2021 tersebut semestinya dimulai pukul 09.00 WIB namun para tergugat yang merupakan pasangan suami istri yakni tergugat I GP (32 tahun) selaku owner arisan dan tergugat II DWP anggota DPRD Bantul (suami GP) ditunggu lebih dari tiga jam tidak segera tampak di pengadilan.

“Tolonglah kepada tergugat untuk hadir di persidangan dan selesaikan masalah ini,” kata salah satu anggota arisan online Lumintu yang berprofesi sebagai pedagang sayur di Nitipuran, Ngestiharjo, Kasihan Bantul dan satu kampung dengan tergugat.

Lumintu mengaku sangat lelah dengan sidang mediasi yang berkali-kali ditunda.

Dirinya mengaku demi bisa menghadiri mediasi, ia sampai tidak berjualan. Begitu pun pekan lalu Lumintu juga tidak berjualan.

“Maka saya minta kebijakan kepada tergugat untuk menyelesaikan persoalan agar jelas mau seperti apa,” kata Lumintu yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp 20 juta.

Kuasa hukum tergugat, Tatak Swasaha SH, yang pekan lalu hadir dalam mediasi kedua, juga tidak hadir dalam mediasi ketiga itu.

Sementara penggugat yang terdiri dari 17 orang peserta arisan Hoki didampingi kuasa hukumnya Marhendra Handoko SH sudah hadir sesuai jadwal yang ditentukan.

“Jika pekan lalu, tergugat, menurut kuasa hukumnya, positif Covid sehingga tidak hadir,untuk sidang mediasi, kali ini tanpa keterangan alias mangkir,” kata Mahendra.
Handoko S.H.

Hakim yang memimpin mediasi di PN Bantul pun memutuskan sidang ditunda lagi pekan depan.

“Saya memberi apresiasi kepada hakim mediasi yang memaksimalkan waktu. Sesuai UU maksimal mediasi adalah 30 hari sejak mediasi pertama atau pada pertengahan Juli mendatang,” ujar Mahendra.

Dirinya meminta kepada tergugat agar hadir dalam sidang mediasi pekan depan guna memastikan penyelesaian kasus tersebut.

Pihaknya, lanjut Mahendra, dalam sidang mediasi kali ini membawa rekapitulasi atau perhitungan kerugian yang diderita peserta.

Total kerugian berdasarkan hitungan Rp 866 juta. Dan, keuntungan penyelenggara atau admin mencapai Rp 600 juta.

Rekapitulasi ini disiapkan sesuai permintaan kuasa hukum tergugat pada sidang mediasi sebelumnya.

“Ketika lagi-lagi mereka tidak hadir, maka perkara ini belum ada titik terang penyelesaian. Pun kami meminta kepada kuasa hukum untuk bisa menunjukan hasil tes PCR kaitan kondisi kliennya yang dikatakan positif Covid-19. Kami meminta sejak sepekan lalu, hingga saat ini belum mendapatkan,” katanya.

Juru bicara peserta arisan, Maria Yosefa Ayu mengatakan, jika arisan Hoki dimulai April 2020.

Teknis penawaran arisan dilakukan GP kepada peserta, awalnya antar-peserta tidak saling mengenal. GP menawarkan baik secara langsung ke personal yang dia kenal maupun melalui media sosial.
Peserta arisan pun bukan hanya di DIY, namun juga Jawa Tengah (Jateng), Jakarta bahkan ada yang dari Sumatera. Setelah mendapat member, GP kemudian membuat banyak room (grup) dengan nilai berbeda, di mana dalam arisan Hoki dikenal dengan nama Get, yakni uang yang harus diserahkan kepada peserta arisan oleh GP (putus arisan)

Nilai Get bervariasi mulai Rp 1 juta hingga Rp 50 juta. Maka setorannya pun berbeda-beda. Begitu pula jangka waktu setoran, ada yang per tiga hari, mingguan, dua mingguan dan bulanan.

Saat masuk room, tiap peserta dikenakan biaya admin mulai Rp 400.000 hingga Rp 750.000 yang semua disetor ke rekening GP. Pembayaran Get lancar dari April hingga September 2020. Namun setelah itu, tidak ada pembayaran lagi. Bahkan terhitung mulai Januari 2021, GP menghentikan arisan secara sepihak, padahal uang member sudah banyak yang disetor. (Cak/Rls)

 

BERITA REKOMENDASI