Siswi SD Lolos Dari Pencabulan Pemulung

BANTUL (KRjogja.com) – Polisi masih mendalami kasus dugaan perbuatan cabul yang dilakukan Rd seorang pemulung warga Banguntapan Bantul terhadap siswi sekolah dasar berinisial Ns warga Bantul. Kini peristiwa yang terjadi di Dusun Ngentak Desa Baturetno Banguntapan Bantul itu ditangani Reskrim Polsek Banguntapan Bantul.

Percobaan perbuatan cabul yang terjadi Sabtu (3/9/2016) itu kamudian dilaporkan, Rabu (7/9/2016) malam lalu. Bocah malang itu lolos dari tindakan bejat korban setelah lari.

Peristiwa mengerikan itu terjadi pada saat bocah kelas V sekolah dasar itu pulang sekolah. Ditengah perjalanan korban dipanggil dan akan diajak bermain bersama. Mendapat tawaran itu anak berumur 11 tahun itu balik bertanya jenis mainan apa. Pemulung itu  menjelaskan, jika main apa saja bisa. Setelah calon mangsanya itu berhenti Rd cerita banyak hal sambil memegang jilbab bocah didepannya itu.

Menyadari kondisinya terancam bocah tersebut meninggalkan lelaki didepannya itu. Namun  Rd tidak menyerah begitu saja, melihat calon mangsanya lari. Secepat kilat langsung melakukan pengejaran, dalam tempo singkat perempuan itu kembali dalam cengkeraman Rd.

Setelah dibawa ke tepi jalan, bujuk rayu kembali dilakukan, termasuk  janji akan memberikan uang Rp 100 ribu. “Pelaku itu memang menjanjikan akan memberikan uang Rp 100 ribu, syaratnya korban harus mau melihat alat vital pemulung itu,” ujar Kapolsek Banguntapan Bantul, Kompol Suharno SH, Kamis (8/9/2016).  
Tidak tahan dengan perilaku pemulung didepannya itu korban langsung melarikan diri ke rumah dan menceritakan peristiwa yang dialaminya itu kepada orangtuanya. Suharno mengungkapkan, sejauh ini pihaknya baru memeriksa orangtua  dan korban.

“Kami lihat dulu peritiwanya seperti apa, jika ada pelanggaran hukum tentu akan diproses sesuai dengan jalur hukum. Tetapi lihat saja nanti, sekarang kasus itu masih didalami penyidik kami,” ujar Suharno.

Terpisah Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Bantul Zarowi mengatakan,  mestinya  pengamanan lingkungan perlu ditingkatkan. Jangan sampai anak-anak sebagai generasi masa depan ini jadi korban orang tidak bertanggungjawab.

“Jika memang diperlukan orangtua bisa menjemput anaknya untuk menghindari hal-hal seperti itu, termasuk dari lingkungan mesti ikut berpartisipasi,” ujar Zarowi. (Roy)
 

BERITA REKOMENDASI