Takmir Masjid Al Aman Bangun Silaturahmi dengan Polda DIY

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pengurus Masjid Al Aman di Sidorum Godean Sleman mengadakan silaturahmi dengan jajaran Polda DIY, Kamis (20/02/2020). Silaturahmi ini digelar untuk menguatkan komunikasi antara Kepolisian dengan masyarakat khususnya para takmir masjid untuk bersama menjaga keutuhan NKRI dan menolak paham komunisme, terorisme serta radikalisme.

Kasubdit V Ditintelkam Polda DIY, AKBP Moch Nawawi SPd MSi menyampaikan jajarannya memang sering membangun hubungan silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama, baik itu bersama ustadz maupun takmir masjid. “Kerjasama dengan pihak polri dijalin bertujuan untuk menjaga kestabilan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus menangkal dan melarang penyebaran paham terorisme dan radikalisme di lingkungan masjid-masjid atau tempat lainnya,” ujar.

Saat ini menurut Nawawi permasalahan kejahatan jalanan juga semakin memprihatinkan. Namun radikalisme juga harus diantisipasi, salah satu yang harus diwaspadai yakni paham-paham yang disisipkan melalui masjid dan maupun keagamaan.

Ia menegaskan, dengan terselenggarannya agenda silaturahmi ini harapannya masjid Al Aman didalam mendatangkan para ustadz untuk mengisi kajian di masjid semakin selektif dan ketat. Agar ustadz yang kontroversial atau banyak ditentang oleh masyarakat dapat teridentifikasi dan bisa diambil langkah antisipasi.

“Masyarakat dapat paham akan bahaya radikalisme, terorisme dan komunisme yang dapat merusak dan merongrong keutuhan NKRI. Semoga silaturahmi dan kerjasama ini selalu terjaga agar tercipta stabilitas kamtibmas demi keutuhan NKRI milik kita bersama,” ungkap Nawawi.

Sementara itu Ketua Yayasan Al Aman, Miftahulhaq MSi sangat mengapresiasi kunjungan sekaligus ajang silaturahmi untuk memperkuat persaudaraan dan persatuan ini. Melalui ajang ini, bisa saling terbuka dan kedepan jamaah Masjid Al-aman akan bahu membahu dengan pihak Polri untuk bersama-sama menjaga keutuhan NKRI.

“Kami dari Masjid Al-Aman siap bersinergi untuk menginisiasi forum silaturahmi antar masjid se-Sidoarum. Memang toleransi di Indonesia jauh lebih longgar jika dibandingkan dengan negara lain. Maka ustadz yang datang ke Masjid Al-Aman pun bisa berasal dari berbagai kalangan dan aliran,” jelas Miftahulhaq.

Ia menambahkan pihak takmir selalu mewaspadai masuknya paham radikalisme, terorisme dan komunisme. Masjid Al Aman selama ini selalu bersinergi dengan pihak kepolisian dan pemerintah desa di dalam aktivitasnya, sebab cipta kondisi aman dan tertib adalah bagian dari dakwah juga.

“Segala yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila, apalagi sampai melawan pemerintah dan melanggar konstitusi itu masuk dalam kategori radikal. Kami pastikan itu tidak ada di sini” terang Miftahulhaq didampingi Wakil Ketua Yayasan Al-Aman dr Rinaldi.

Ditegaskan Miftahulhaq, untuk bisa menjadi pembicara di Masjid Al Aman harus diseleksi terlebih dulu. Harus sosok yang jelas pikirannya, jelas pandangannya dan jelas sikapnya terhadap pemerintah. “Karena berani melawan pemerintah hukumnya haram dalam Islam,” pungkasnya. (*)

BERITA TERKAIT