Terdakwa Bantah Aniaya Bayi Jonathan

BANTUL,KRJOGJA.com – Terdakwa seorang kontraktor, AC alias Diduk (36) warga Samalo Patalan Jetis Bantul membantah telah melakukan penganiayaan saksi korban bayi Jonathan Miracle. Ia menyatakan dakwaan dan tuduhan yang ditujukan kepada dirinya adalah fitnah.

“Saya tak pernah menganiaya Jonathan. Kalau dimasukkan mesin cuci pasti sudah mati,” ungkap terdakwa dihadapan majelis hakim diketuai RR Andy Nurvita SH dengan jaksa Sri Anggraeni SH dan penasihat hukum Ahmad Fauzan SH dan Nunung Tri Hatmoko SH di PN Bantul, Senin (12/6/2017).

Apalagi setelah lahir, istri terdakwa sempat meminta anak Jonathan untuk diadopsi. Tetapi karena status Sartini, ibu bayi Jonathan tak memiliki ikatan perkawinan dengan Budi selaku ayah kandungnya membuat proses adopsi mengalami kesulitan dan hingga kini belum terlaksana.

Bahkan terdakwa menuduh Sartini selaku ibu kandung yang menganiaya Jonathan. Hal itu terlihat dari pelakuan kasar Sartini tehadap bayi Jonathan, anak kandungnya sendiri. “Saat meminumkan susu ke Jonathan, Sartini mendorong dot ke mulut Jonathan dengan keras dan itu saya lihat dengan mata kepala saya sendiri,” imbuh terdakwa menjelaskan.

Bahkan ia juga diduga telah menganiaya Gebi, anak terdakwa hingga bagian mataknya lebam. Tetapi saat terdakwa mengkonfirtmasi kejadian itu, Sartini tak menjawab tetapi hanya diam dan menangis sebelum keesokan harinya pergi dari rumah tedakwa tanpa pamit. Tak hanya itu, Sartini juga pernah memaki salah satu anak terdakwa dengan kata-kata kasar.

Atas kepergian Sartini tanpa pamit, terdakwa beserta istrinya mencari ke Solo. Karena saat itu terdakwa mengaku kesal karena Sartini meninggalkan anaknya di rumah sendirian dan tak memberi makan. Selain itu terdakwa juga datang ke rumah Sartini untuk memberikan sisa gaji yang belum terbayar.

Sehingga dalam keterangan di persidangan, terdakwa tak mengetahui luka-luka bayi Jonatahan. Terdakwa sendiri menampik semua tuduhan Sartini telah menganiaya anaknya atau korban bayi Jonathan. Karena sebagai kontraktor ia sangat sibuk dan jarang pulang ke rumah.

“Untuk berinteraksi dengan anak sendiri saja jarang apalagi anak pembantu. Bayangkan saja, saya pulang ke rumah sudah pukul 12 malam dan pagi sudah pergi lagi. Terkadang saya tak mandi dan harus mandi di proyek,” terangnya.

Selain itu, saat liburan ia sering pergi ke luar bersama anak dan istrinya dan sering meninggalkan Sartini dan bayi Jonathan di rumah. Dalam kondisi rumah sepi itulah terdakwa menilai kemungkinan bisa saja Sartini menganiaya anaknya sendiri karena kelahirannya memang tak diinginkan. (Usa)

 

BERITA REKOMENDASI