Terduga Pelaku Tawuran Pelajar Ternyata Sebagai Korban

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Fakta baru ditemukan dibalik tawuran antar dua kelompok pelajar yang menewaskan seorang korban di Kasihan Bantul beberapa minggu lalu. IS (18) salah seorang terduga pelaku yang kini telah diamankan dan ditahan di Polres Bantul ternyata juga menjadi korban dalam duel maut tersebut. Hasil visum dokter menunjukkan kaki kiri pelajar ini terluka akibat terkena benda tajam.

“Luka di kaki diperkirakan terkena ujung dari gir. Jadi IS sebenarnya juga menjadi korban dalam kasus ini, ia sempat dikeroyok serta dipukuli dan ada saksi yang melihatnya,” kata kuasa hukum IS, Adnan Pambudi SH MH di Sleman, Minggu (14/11/2021).

Hasil visum itulah yang kemudian mendorong tim kuasa hukum untuk menempuh jalur hukum dengan membuat laporan ke Polres Bantul. Laporan tersebut telah dibuat dan dilayangkan pada Selasa (09/11/2021) lalu.

“Tim kuasa hukum mendorong Polres Bantul untuk scara oyektif manangani kasus yang kami laporan. Bahwa klien kami ternyata juga sebagai korban dan ada latar belakang permasalahan seperti apa di balik ini, itu yang harus dilakukan kepolisian secara obyektif,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan antara IS dan korban sebelumnya tidak pernah bertemu bahkan tak saling kenal. Bahkan dalam kasus ini menurut Adnan Pambudi pihak Sase yang memulai dan mengajak untuk tawuran kelompok Stepiro.

“Ini hendaknya bisa dijadikan petunjuk bagi kepolisian untuk menungkap fakta sebenrnya. Klien kami mengatakan sebelumnya ada anak Stepiro yang dipukuli anak Sase, itu yang kemidian IS datang ke sana untuk menanyakan persoalan tersebut tapi kemudian diajak tawuran,” kata Adnan Pambudi yang juga mendampingi terduga terdakwa MY (18), NW (18), MNH (18), BK (19), MF (19) dan AT (18) tersebut.

Purnomo Susanto SH menambahkan secara usia memang para terduga beberapa diantaranya sudah tidak anak-anak lagi, namun secara status mereka masih pelajar. Bahkan ada yang hanya usianya tergolong dewasa hanya lebih dari hari maupun bulan saja.

Ia meminta hal ini juga dapat dijadikan pertimbangan dalam penanganan proses hukum nantinya. Karena status mereka masih sebagai pelajar, ia berharap kepada lembaga pendidikan untuk tetap dapat memberikan akses pendidikan selama para terduga menjalani proses hukum karena hal itu telah diatur secara kostsitusi dalam undang-undang.

Sementara itu kerabat MF, Sri Wahyuni (39) mewakili keluarga para terduga pelaku meminta maaf atas kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut. Manurutnya keluarga tentunya tak menginginkan peristiwa ini terjadi dan hendaknya permasalahan tersebut dapat dijadikan pelajaran bersama dalam mengawasi anak kedepannya. (Van)

BERITA REKOMENDASI