Terjebak Pinjaman Online, Dari Rp 10 Juta jadi Rp 200 Juta

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Seorang karyawan swasta terjerat pinjaman online (pinjol). Uang Rp 10 juta yang ia pinjam berujung membengkaknya jumlah pengembalian yang harus dibayarkannya yang nilainya mencapai Rp 10 juta.

Korban berinisial A (31) mengalami masalah di tempat ia bekerja sehingga mengharuskan untuk membayar ganti rugi kepada perusahaan sebesar Rp 10 Juta. Ia kemudian meminjam uang ke temannya sebesar Rp 10 Juta, namun setelah 5 hari meminjam uang pria ini dihubungi temannya untuk segera membayar hutang dengan bunga menjadi Rp 16 Juta.

“Ternyata uang yang dipinjamkan teman A merupakan uang pinjol. Dengan keterbatasan keuangan dan telah mencapai tenor akhirnya A terbujuk temannya dan secara terpaksa mengajukan pinjaman online untuk menutup utang yang diberikan oleh temannya itu,” ungkap jelas kuasa hukum korban, Wibowo Dimas Hardianto di Sleman, Sabtu (26/06/2021).

Dimas mengatakan kliennya tidak ada niatan untuk meminjam uang di pinjol. Namun dikarenakan harus mengembalikan uang temannya dengan nominal yang besar di hari itu juga akhirnya mau tidak mau ia melakukan pinjaman online untuk menutup pinjaman online yang telah digunakannya.

“Masalah mulai datang ketika hutang miliknya melalui temannya sudah selesai, A melakukan gali lubang tutup lubang untuk menutup hutangnya di pinjol sehingga tanpa disadari hutang A membengkak menjadi ratusan juta rupiah,” jelasnya.

Kurang lebih 50 hari, total pinjaman online yang harus dibayarkan oleh kliennya mencapai sekitar Rp 212 juta ditambah biaya bunga dan perpanjangan tenor yang tidak bisa merinci berapa. Dimas mengatakan kliennya telah melakukan pembayaran tanggungan sebanyak kurang lebih Rp 80 juta dan biaya jatuh tempo sebesar Rp 55.404.000 dengan sampai sekarang total hutang pokok belum terbayarkan sebesar Rp. 82.650.00 ditambah biaya perpanjangan jatuh tempo yang nilainya belum diketahui total jumlahnya.

Akhirnya, A pun terjebak di pinjaman online, dengan cara meminjam uang kembali kepada aplikasi pinjol lain menggunakan identitas istrinya, S (34). “A dan istrinya terus diteror pinjol. Saat pencairan uang tidak dibubuhkan surat perjanjian, dan tanda tangan elektronik serta penyelesaian dengan baik, justru A serta keluarga dan rekan selalu mendapatkan teror oleh dept collector,” ujarnya.

Akibat mendapat terror dan ancaman secara terus menerus kliennya merasa trauma dan ketakutan. Ia memilih menyelesaikan melalui jalur hukum.

Oleh karena itu A mendatangi Kantor Isdiyanto Law Office untuk meminta bantuan hukum dalam penyelesaian permasalahannya. Kemudian dibentuklah Tim Advokasi Anti Pinjol yang tergabung antara Isdiyanto Law Office dan Lembaga Mediasi Desa Panggungharjo yang di ketuai oleh Wibowo Dimas Hardianto.

“Kami selaku Tim Advokasi Anti Pinjol telah mendapat konfirmasi dari Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pda tanggal 4 Juni 2021 melalui OJK Contact Center bahwasannya ke 34 Aplikasi Pinjaman Online tersebut adalah Ilegal,” tegasnya Dimas.

Dimas selalaku Tim Advokasi Anti Pinjol akan melakukan pelaporan kepada Tim Satgas Waspada Investigasi karena 34 aplikasi pinjaman online tersebut sudah dikonfirmasi oleh pihak OJK termasuk dalam pinjaman online illegal. (*)

BERITA REKOMENDASI