Urut Organ Vital Atlet, Pelatih Bulutangkis Cabul Ini Ditangkap

Editor: KRjogja/Gus

GROBOGAN (KRjogja.com) – Ngadijono (70), seorang pelatih bulutangkis asal Desa Geyer Kecamatan Geyer Grobogan, Jumat (16/09/2016), diringkus petugas Reskrim Polres Grobogan di rumahnya karena diduga telah mencabuli 8 atlet anak asuhnya. Kakek bercucu empat pensiunan Perhutani KPH Gundih itu kini diamankan di Mapolres bersama barang bukti satu botol kaca bening berisi minyak wangi oles Arrayan Malaikat Shubuh.

Perbuatan bejat yang dilakukan terhadap 8 atlet itu terjadi sejak Agustus 2016 hingga minggu kedua September 2016. Awalnya, salah satu korban mengeluh kepada orang tuanya jika kemaluannya sakit karena dipijat oleh pelaku di saat akan berlatih bulutangkis di halaman Kantor KUD Geyer. “Modusnya, pelaku mengutarakan kepada para korban jika mempunya minyak wangi jika dioleskan ke tubuh bisa cepat pintar bermain bulutangkis dan pukulan raketnya bisa semakin kuat,” ungkap Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto didampingi Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Iptu Sapto usai memeriksa pelaku.

Tanpa curiga, para korban yang rata-rata baru berumur 11 tahun itu secara bergantian tubuhnya bersedia diolesi minyak oleh pelaku di pinggir lapangan. Awalnya diurut pada bagian tangan dan punggung. Setelah itu tangan pelaku merogoh kaos bagian depan lalu mengurut payudara korban. Urutan berikutnya ke bagian perut dan pinggang kemudian ke bagian pangkal paha hingga barang terlarang korban. Kedelapan korban tersebut berinsial AS (11), DE (11), SA (12), VA (11), IN (11), NA (11), YU (11) dan NU (11).

Ketika diinterogasi petugas, pelaku mengelak jika tela mencabuli 8 anak didiknya. “Saya memang memijat pada tubuh mereka dengan minyak wangi oles agar otot tubuhnya bisa lentur dan kuat. Saya akui memang sempat menyentuh bagian terlarang, tetapi itu tidak sengaja. Tidak mungkin saya nafsu dengan anak masih kecil,” bantahnya sebagaimana ditirukan Kasat Reskrim.

Ditambahkan Kanit PPA Iptu Sapto, pelaku berhak mengelak. Tetapi seluruh korban mengakui telah dicabuli bagian terlarang. “Ironisnya, pencabulan itu dilakukan secara bergantian dan dihadapan para korban sendiri. Pelaku kami jerat Pasal 82 Ayat 1 Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2012 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara,” terang Sapto. (Tas)       

BERITA REKOMENDASI