Usai Vonis, Massa Mengamuk di PN Bantul

BANTUL, KRJOGJA.com – Sejumlah fasilitas Pengadilan Negeri (PN) Bantul dirusak oleh sejumlah pengunjung sidang  sesaat  setelah  vonis  terdakwa Ketua  Pemuda Pancasila Bantul Ds dibacakan, Kamis (28/6). Tindakan merusak fasilitas negara itu ditengarai akibat tidak puas dengan putusan majelis hakim. 

Fasilitas yang rusak diantaranya, LED Smart 55 inc, monitor CCTV, mesin fax, meja pelayanan informasi dan pengumuman, kaca jendela kantor, kursi tunggu pelayanan,  pintu kantor, banner informasi dan pelayanan serta pot bunga dan tanaman.

BACA JUGA :

Lempari Angkringan dengan Batu, Dua Remaja Bonyok Dimassa

Tiga Orang Diduga Pelaku Perusakan PT RUM Ditangkap

 

Informasi dari lingkungan PN Bantul terungkap, jika   tindakannya anarkis itu terjadi sesaat setelah  vonis terhadap Ds selesai dibacakan.  "Setelah vonis dibacakan, massa sebuah ormas berteriak -teriak dengan yel yel, selang beberapa saat massa spontan memecah kaca disisi timur ruang sidang," ujar sumber itu. 

Setelah aksi anarkis disisi timur, puluhan anggota ormas tidak terkendali.  Kursi dan pot bunga dekat ruang tahanan digulingkan. Tidak sampai di situ, massa yang sudah terbakar emosinya juga merusak meja pelayanan dan informasi.  Setelah meja dirusak tindakan meluas hingga di halaman kantor PN. 

Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan SIK SH mengatakan, pengrusakan terjadi setelah putusan sidang. "Setelah selesai pembacaan putusan, begitu keluar dari sidang kemidan terjadilah peristiwa itu  mungkin teman-teman terdakwa tidak puas, sehingga memecah kaca atau pot," kata Sahat. 

Menurut Kapolres selanjutnya petugas mendorong massa keluar pengadilan agar tidak meluas. Setelah kejadian itu pihak kepolisian sudah mengumpulkan barang bukti dan saksi, petunjuk. Padahal, Polres Bantul juga dibackup dari Resmob Polda DIY. “Soal pengamanan sudah cukup, dari Polsek Bantul 20, dari polres Bantul 42 personel,” ujarnya. 

Ketua PN Bantul Agung Sulistyono SSos MHum mengatakan,  kasus itu terjadi awal Mei 2017 di Kantor Pusat Study Hak Azazi Manusia Universitas Islam Indonesia. Waktu itu terdakwa dilaporkan dengan tuduhan melakukan penganiayaan dan pengrusakan serta perbuatan tidak menyenangkan.  

Dalam persidangan yang diketuai Subagio SH Mhum  terdakwa divonis 5 bulan dengan masa percobaan 9 bulan.  Putusan itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni 6 bulan dengan masa percobaan 10 bulan. (Roy)

BERITA REKOMENDASI