Kisah Mahasiswi Yogya dengan Gangguan Bipolar, Skripsi Berujung Niat Bunuh Diri

LYNN mencoba menjemput ajalnya sendiri. Tubuhnya siap terjun bebas dari balkon fakultas kampusnya. Mukanya payah dan kacau, tangisnya tak bisa berhenti, jilbabnya kusut dan basah oleh air matanya sendiri.

“Aku mau mati aja! Lepasin!” teriaknya, tak sadar dia tepat di tengah lorong ramai.

Orang-orang di sekitarnya melihat dengan heran, sebagian terlihat khawatir, lebih banyak yang penasaran. Tapi hanya satu orang yang menariknya menjauh dari pagar.

****

Satu hari sebelum pukul sepuluh pagi, suasana di kampus salah satu universitas negeri di Yogyakarta itu tampak normal. Mahasiswa terlihat di mana-mana, beberapa dosen terburu-buru dengan jadwalnya, dan sebagian petugas administrasi sibuk di depan komputer mereka.

Lynn (bukan nama sebenarnya) berdiri di depan pintu ruang dosen bersama seorang temannya. Senyumnya lebar, begitu semangat menenteng bendel cetakan proposal skripsinya. Dia hampir tidak tidur semalaman karena terlalu senang.

Begitu pintu dibuka, dia melihat dosennya duduk di balik meja kerjanya, masih berkutat dengan berkas-berkas. Skripsinya tertunda hampir lima bulan karena fase depresi sebelumnya tak kunjung membaik. Dia telah memberi tahu dosennya soal kondisinya yang tidak stabil. Tapi dia tetap khawatir, bisa jadi dosen itu tidak paham permasalahannya.

Lynn diliputi kecemasan berlebih begitu langkahnya mencapai meja sang dosen. Perempuan 22 tahun itu meremas kertas di tangannya. Obrolan telah dibuka, tapi lithium dari dokternya seperti tidak berperan banyak menstabilkan mood-nya.

Fokusnya tiba-tiba hilang, rasanya amat sangat sedih dan payah, tenaganya seperti hilang tak bersisa. Dia buru-buru keluar ruangan dan tangisnya seketika pecah begitu saja.

Temannya menuntun dia ke sisi lain gedung yang cukup sepi. Tapi sebelum sampai, Lynn spontan mendekat ke pagar dan bersiap menaikinya. Lynn berusaha melompati pagar.

Kepanikan besar terjadi. Seluruh pikirannya hanya tertuju pada susunan paving jauh di bawahnya. Dia ingin mati. Temannya meraih tangan Lynn, menariknya dari keramaian dan pagar. Mereka duduk di sudut lorong hampir dua jam, menunggu tangisnya selesai.

Tersakiti Karena 'Dihakimi'

Lynn salah satu orang yang positif mengidap bipolar tipe I. Perubahan suasana hatinya bisa sangat cepat dari fase manik/mania ke depresi. Dia mendatangi dokter umum, psikolog, dan psikiater, totalnya empat orang, dan mereka mengatakan diagnosa yang sama. 

Sesi konselingnya telah berlangsung berbulan-bulan. Puluhan obat antipsikotik, antidepresan, penstabil mood, telah ditelannya. Terakhir, setelah percobaan terjun itu, dia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari karena depresinya tak kunjung membaik.

Lynn awalnya ragu bercerita padaku. Dia trauma pada orang-orang yang mengasihani, atau ngeri ketika mendengar tentang penyakit kejiwaan. Rasanya sangat tidak nyaman. Mereka yang menghakimi dengan landasan ‘kata orang’ dan ‘kata google’  itu sangat kejam.

Baginya, terkadang lebih baik tidak ada yang tahu dari pada dihakimi sepihak. Sebab mereka tidak pernah tahu rasanya dirongrong perasaan sedih tanpa sebab, tidak tidur berhari-hari, dan tertawa terbahak-bahak lalu seketika menangis berjam-jam setelahnya.

“Aku enggak suka, beberapa orang justru merasa bipolar itu keren, padahal enggak! Ini bukan hal yang patut dibanggakan atau buat pamer di media sosial,” tegasnya.

Perlu Didukung Tulus, Bukan Dikasihani

Dari cerita Lynn, aku memutuskan bertemu seorang psikolog di salah satu Klinik Konseling Islam di Jogja. Aku mendatangi Nur Fitriyani Hardi di ruangannya di suatu sore. Perempuan lulusan S1 Psikologi Universitas Negeri Makasar, dan S2 UGM jurusan Psikologi Profesi Klinis itu sebelumnya bekerja di salah satu puskesmas kota Jogja.

Kami mendiskusikan perihal bipolar temanku, dia membenarkan tentang gangguan bipolar yang dialami Lynn. Pola depresi mereka berupa kesedihan mendalam, kehilangan tenaga, mudah tersinggung, bahkan ekstremnya adalah berkeinginan untuk mengakhiri hidup.

“Saat fase manik, orang bipolar sering kali terlalu aktif, dia bisa tidak tidur semalaman, bahkan berhari-hari, terlalu bersemangat, dan tingkat percaya dirinya tinggi,” kata Fitri terkait ciri-ciri kontradiksi bipolar, yang ironinya bisa berubah sangat cepat.

Sebagai orang yang bersinggungan dengan pengidap bipolar; baik keluarga, teman, atau pasangan, Fitri menyarankan agar kita mengetahui hal-hal mendasar tentang bipolar.

“Pertama, ketahui bipolar itu seperti apa, gejalanya bagaimana, minimal tahu dua hal tadi, fase manik dan depresinya,” tutur Fitri.

Hal kedua yang perlu dilakukan sebagai orang terdekatnya, adalah mengingatkan dia untuk meminum obatnya secara rutin. Obat mereka mungkin tidak langsung menyembuhkan, tapi itu bantu mengontrol emosi mereka supaya lebih stabil.

“Lakukan pengecekan secara berkala dan sering menanyakan kondisinya,” kata Fitri.

Jika tipe bipolarnya memang telah parah dan dia pernah berpikiran atau tindakan bunuh diri, usahakan menjauhkan penderita bipolar dari benda-benda tajam dan berbahaya. Temani mereka dan didukung secara tulus, tapi bukan dikasihani.

“Kita perlu melatih kepekaan untuk melihat gejala mereka, dan jangan memaksakan segala sesuatu, sebab mental mereka mudah tersinggung secara tidak sadar,” sarannya.

Fitri juga menegaskan, kita yang bukan pasien, sebaiknya tidak berlebihan dan senantiasa pengertian dengan mereka. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi sumber stres bagi pasien itu sendiri. (Ika Nur Khasanah/KR Akademi)

BERITA REKOMENDASI