16 Juta Penduduk Indonesia Mengalami Depresi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan prevalensi gangguan emosional di Indonesia sebesar 9,8% atau sekitar 25 juta penduduk. Sedangkan untuk prevalensi masyarakat mengalami depresi di Indonesia mencapai 6,1% atau sekitar 16 juta penduduk. Ironisnya dari jumlah tersebut 91% atau sekitar 15 juta penduduk tidak mendapatkan penanganan.

Permasalahan-permasalahan psikologis tersebut dapat memberikan dampak yang beragam, diantaranya gangguan jiwa  berat. Bahkan dampak yang paling berbahaya yakni bisa memicu terjadinya bunuh diri.

Psikolog dan Programer Jiwa Puskesmas Mlati I, Dewi Prabasari Virgandhani SPsi Psi mengatakn beberapa bulan terakhir banyak dijumpai kasus keinginan bunuh diri. Dari kasus tersebut justru kebanyakan terjadi  dikalangan remaja dan mahasiswa.

“Hal ini apabila tidak ditangani dengan optimal akan dapat menjadi gangguan jiwa yang lebih berat atau tidak menutup kemungkinan untuk menambah kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman,” ungkapnya saat talkshow dengan tema ‘Memahami Tatalaksana Penanganan Kesehatan Jiwa di Puskesmas dan Mengatasi Gangguan Jiwa di Masyarakat’ yang dilaksanakan Rabu (23/10/2010).

Dewi Prabasari mengajak masyarakat untuk peduli dengan kesehatan jiwa (keswa). Masyarakat juga diminta tidak perlu malu memeriksakan diri ke dokter atau psikolog apabila memang memiliki tanda-tanda yang mengarah pada stress atau gangguan kejiwaan.

“Selain itu juga membuka wawasan masyarakat jika ODGJ butuh dukungan baik dari keluarga dan masyarakat untuk dapat mendukung kesembuhannya. Hapus semua stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ karena mereka memiliki hak untuk hidup nyaman di masyarakat,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Aspi Kristiati SKM MA dari RS Grashia mengatakan sebagian besar penyebab keterlambatan ODGJ mendapat pertolongan dan mengalami perlakuaan yang salah yakni karena stigma. Stigma bisa terjadi karena masyarakat belum paham dan informasi tentang keswa belum merata serta belum tercapainya akses akses informasi tentang keswa yang mudah dan murah.

“Penanganan stigma perlu perhatian bersama, baik dari ODGJ dan keluarga maupun masyarakat. Pada intinya ODGJ jangan dikucilkan dan perlu pendampingan agar dapat memperoleh penanganan pengobatan dengan tepat,” jelasnya.

Sementara itu dr Patimah Haryati dari Sie P2PTM dan Keswa Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengungkapkan pihaknya sangat serius menangani permasalahan gangguan jiwa dalam masyarakat. Pasalnya selain menyangkut secara langsung pada aspek kesehatan, gangguan jiwa juga akan berdampak pada permasalahan sosial.

Talkshow ini dilaksanakan Puskesmas Mlati I Kabupaten Sleman dalam memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dengan mengelar acara Gebyar Kesehatan Jiwa. Acara dibuka langsung oleh Kepala Puskesmas Mlati I, dr Ernawati yang dalam sambutanya menekankan pentingnya pengelolaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang baik akan mencegah adanya kekambuhan dan meminimalkan risiko bunuh diri.

Untuk meningkat kepedulian tersebut Puskesmas Mlati I memiliki inovasi program jiwa yang disebut ‘Detektif Kepo Jiwa’ (Deteksi Dini Aktif dan Kartu Efektif Pemantauan Obat Jiwa). Program ini cukup efektif untuk pemantauan obat bagi pasien ODGJ sehingga jika putus obat dapat terpantau pengobatanya dan segera dimotivasi untuk kontrol rutin. (*)

BERITA REKOMENDASI