20 Staff PDA Belajar Pengelolaan Cagar Budaya di Belanda

Tetapi banyak pemerintah daerah yang kekurangan tenaga yang menguasai pengelolaan cagar budaya yang selaras dengan pemberdayaan perekonomian setempat.

Hal ini mendorong Pusat Dokumentasi Arsitektur, yang merupakan lembaga pemerhati arsitektur Indonesia, khususnya kawasan cagar budaya, untuk mengajukan pelatihan pengelolaan cagar budaya yang selaras dengan pengembangan ekonomi setempat, kepada Nuffic Neso Indonesia.

“Saat pelatihan, kami akan uji cobakan membuat perencanaan pengelolaan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Kemudian, hasil pelatihan ini nanti akan berupa manual pengelolaan cagar budaya, untuk kami sebar ke pengelola cagar budaya di kota-kota lainnya.” demikian disampaikan Nadia Rinandi saat acara pembukaan pelatihan.

The Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS), bagian dari Universitas Erasmus di kota Rotterdam, Belanda, dipilih karena mempunyai banyak pakar di bidang manajemen perkotaan. “Pengelolaan cagar budaya merupakan salah satu bagian manajemen perkotaan.” ungkap Alonso Ayala dalam kesempatan yang sama.

Pengelolaan cagar budaya melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Untuk itu, PDA mengajak peserta pelatihan juga dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), pemerintah pusat (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), pemerintah daerah (Jakarta, Depok), universitas (Universitas Indonesia, Universitas Riau, Universitas PGRI Semarang, Universitas Hindu Indonesia Denpasar, UNS Surakarta, serta Universitas Pembangunan Panca Budi Medan), serta komunitas wiraswasta Kota Tua.

Dalam kesempatan yang sama, Peter van Tuijl mengutarakan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk kerja sama Belanda dan Indonesia di bidang peningkatan ekonomi. “Selain pengembangan Kota Tua Jakarta, StuNed juga mendukung bidang pengembangan pariwisata di danau Toba. Pariwisata sangat penting untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar” tambahnya.

BERITA REKOMENDASI