89 Persen Karhutla Ternyata Terjadi di Lahan Gambut

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo menjelaskan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah sulit diatasi. Penyebabnya karena lahan yang terbakar berjenis gambut.

Doni menjelaskan, pemerintah telah mengupayakan berbagai cara untuk memadamkan titik api yang muncul di enam provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimatan Tengah dan, Kalimantan Selatan.

Pemerintah memadamamkan dengan menggunakan bom air (water bombing) dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Namun api yang berkobar di sejumlah daerah tidak sertamerta padam.

"Kenapa? Karena yang terbakar sebagian besar adalah lahan gambut," kata Doni di Gedung Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Senin, (23/9/2019).

Dia membeberkan, sebanyak 328 ribu hektare lahan yang terbakar sekitar 89 persen adalah lahan gambut. Dijelaskan, yang terbesar ialah wilayah Riau sekitar 40.500 hektare, kemudian Kalimatan Tengah 24 ribu hektare. Dilanjut Kalimatan Barat, Jambi, Sumsel dan Kalsel.

"Data yang diterima BPBD dari KLHK melalui satelit terhitung dari 31 Agustus yang lalu gambut kebakar mendekati angka 90 ribu hektare," ujar dia.

Hingga 1 September 2019 sampai sekarang masih terdapat sejumlah wilayah yang terbakar. Doni pun mengutip pernyataan Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Fuad.

"Gambut ini adalah fosil batu bara muda yang sebagian besar fosil ini terdiri dari kayu-kayu yang sudah berusia ribuan tahun beliau juga mengatakan bahwa pada masa perang dunia kedua Hitler pernah menggunakan bahan bakar untuk industri milter Jerman berasal dari gambut," papar dia.

Doni menerangkan, pihaknya menarik kesimpulan bahwa gambut adalah bahan bakar yang mudah terbakar. Kondisi itu pun semakin parah apabila lahan gambut mengalami kekeringan.

"Pembakaran di lahan gambut tingkat risiko lebih besar dibanding di lahan mineral," ujar dia.(*)

BERITA REKOMENDASI