Ahli Waris Korban SJ 182 Berpeluang Tuntut Kompensasi Dari Boeing

Namun, bukti-bukti lainnya juga masih dikumpulkan sebelum akhirnya menyampaikan tuntutan resmi di pengadilan Amerika Serikat. “Kami tidak terlalu buru-buru,” kata Danto.

Dalam rencana proses hukum ini, kantor hukum Danto dan Tomi & Rekan bekerja sama dengan pengacara penerbangan internasional di Charles Herrmann dari Herrmann Law Group. Kedua kantor hukum ini sebelumnya juga mendampingi keluarga pesawat Lion Air JT610 saat menuntut Boeing pada 2019.

Charles mengatakan proses investigasi untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat sedang berjalan di KNKT. Komponen yang saat ini sedang dicari, yaitu CVR atau Cockpit Voice Recorder dan sangat dibutuhkan untuk mengungkap kejadian sebenarnya.

Dekan dan Guru Besar FH Universitas Tarumanegara, yang juga pakar penerbangan, Prof. Dr. Ahmad Sudiro mengatakan, dalam peristiwa kecelakan pesawat, terdapat hak-hak ahli waris korban yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh para pihak yang dianggap bertanggung jawab.

“Ganti kerugian dari pengangkut tidak mengurangi dan tidak melepaskan pihak- pihak lain yang diduga turut bertanggung jawab, dan untuk tetap dituntut ganti kerugian atas terjadinya kecelakaan pesawat,” sebut Ahmad.

 

Ahmad menambahkan, ada aturan Menteri Perhubungan terkait kompensasi penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan. Ada juga sejumlah pelajaran yang bisa diambil dari kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober 2018.

 

Ahmad menjelaskan, dari kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 ketika itu, ada empat hal yang harus dihadapi keluarga/ahli waris penumpang pesawat Lion Air JT 610. Pertama, keluarga tanpa pendampingan ahli hukum atau pengacara, secara sepihak diarahkan oleh pihak maskapai untuk memberikan pelepasan dan pembebasan dari sanksi perdata maupun pidana kepada pihak maskapai dan pabrikan pesawat untuk menerima santunan sebesar Rp 1.250.000.000, ditambah Rp 50.000.000 ekstra santunan dari maskapai dan pabrikan pesawat terbang.

BERITA REKOMENDASI