Alokasi Subsidi Minyak Tak Terpengaruh Krisis Iran

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kementerian Keuangan belum mengutak-atik alokasi anggaran subsidi energi, meskipun tensi ketegangan hubungan AS dan Iran masih ada. Ketegangan tensi kedua negara sempat membuat harga minyak mentah dunia meroket.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan pihaknya masih perlu waktu untuk memantau kelanjutan hubungan kedua negara. Selain itu, Kementerian Keuangan juga masih perlu melihat perkembangan harga minyak mentah ke depan kalau sewaktu-waktu ketegangan meningkat.

"Belum (ada perubahan alokasi). Kami juga baru jalan kan, APBN baru jalan 15 hari. Kami lihat ke depan," ujarnya.

Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp124,9 triliun. Alokasi anggaran ini lebih rendah dari realisasi tahun lalu sebesar Rp136,9 triliun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan alokasi anggaran subsidi energi tahun ini lebih rendah dari tahun sebelumnya karena mempertimbangkan kondisi ekonomi global. Misalnya, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP).

"Anggaran subsidi turun akibat penurunan asumsi ICP, lifting minyak dan gas, serta penurunan cost recovery. Kemudian, ada penajaman sasaran pelanggan golongan 900 VA untuk subsidi listrik," kata Sri Mulyani, akhir tahun lalu.

Pada akhir tahun, pemerintah memperkirakan asumsi ICP berada di angka US$63 per barel. Kemudian, asumsi lifting minyak 755 ribu barel minyak per hari dan lifting gas 1,19 juta kiloliter setara minyak per hari.

Kendati begitu, harga minyak mentah di pasar internasional sejatinya sempat melonjak tinggi pada beberapa waktu lalu. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik 31 sen ke level US$68,91 per barel. (*)

BERITA REKOMENDASI