Anak Korban Gempa Pidie Jaya Butuh Pemulihan Trauma

JAKARTA (KRjogja.com) – Gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh dengan kedalaman 10 kilometer, juga dirasakan dibeberapa kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh. Kepanikan akibat gempa ini dipastikan menimbulkan trauma terutama kepada anak-anak, terlebih Aceh punya pengalaman bencana gempa dan tsunami yang cukup besar. 

Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris mengungkapkan, selain mengerahkan semua sumber daya untuk membantu korban, pemerintah juga diminta menurunkan tim untuk memulihkan trauma (trauma healing) warga Pidie Jaya akibat gempa, terutama kepada anak-anak dan lansia. Pemulihan trauma penting agar kepanikan warga bisa berkurang sehingga penanggulangan pasca bencana bisa berjalan baik dan komprehensif.

"Pemulihan infrastruktur fisik penting, tetapi juga harus disertai pemulihan psikologis warga terutama anak-anak karena ingatan traumatis saat mereka melihat dan merasakan langsung bencana akan tertinggal di alam bawah sadar mereka. Efeknya, anak-anak jadi mudah murung hingga susah tidur. Kalau tidak dipulihkan akan mengendap terus hingga mereka beranjak dewasa," jelas Fahira Idris di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (07/12/2016). 

Fahira menjelaskan perlu segera diterjunkan tim pemulihan trauma pasca bencana ke Pidie Jaya, karena biasanya dalam setiap bencana gempa besar terdapat gempa-gempa susulan yang lebih kecil sehingga masyarakat perlu diedukasi bahwa tidak perlu panik dan anak-anak bisa lebih siap jika merasakan kembali gempa susulan. 

 

“Kita bersyukur, gempa ini tidak berpotensi tsunami sehingga kepanikan warga bisa berkurang. Namun, memang dari laporan yang saya terima kerusakan beberapa infrastruktur fisik cukup memperihatinkan. Puing-puing bangunan yang runtuh ini juga menjadi efek trauma bagi yang melihatnya sehingga harus cepat dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. Saya yakin, warga Pidie Jaya kuat menghadapi dan keluar dari cobaan ini,” ungkap Senator Jakarta ini. 

 Fahira berharap, selain pemerintah, komunitas-komunitas relawan juga segera turun ke Pidie Jaya membangun kembali mental para korban terutama anak-anak dengan membangun kelompok bermain, membaca buku, dan kegiatan berkesenian serta kegiatan agama sehingga bisa melupakan bencana yang baru saja mereka saksikan. (*)

BERITA REKOMENDASI