APBN 2019 Dinilai Lebih Sehat

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 dinilai lebih sehat. Hal itu ditunjukan dengan defisit yang terjadi hanya 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Persentase defisit tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 2013.

Endah Martiningrum, Direktur Evaluasi Akuntansi dan Setelmen Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengatakan, APBN tahun ini bisa sehat karena dipengaruhi beberapa hal. Kondisi perekonomian global dan permasalahan dagang yang ditimbulkan oleh negara-negara besar justru tak berimbas terhadap Indonesia.

“Ini sangat baik karena pengaruh kondisi global yang begitu banyak tantangan seperti adanya perang dagang dan sebagainya, ternyata itu pengaruhnya terhadap Indonesia terutama untuk pertumbuhan tidak terlalu signifikan. Artinya kita masih tetap tumbuh walaupun dengan tingkat pertumbuhan yang kecil, namun tetap tumbuh,” ungkap Endah Martiningrum saat memberikan materi kuliah umum di Universitas Pembangunan Negeri (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta, Jumat (11/09/2019).

Endah Martiningrum mengungkapkan, dalam APBN 2019 belanja negara sebesar Rp 2.641,1 triliun dengan rincian pemerintah pusat Rp 1.634,3 triliun, daerah Rp 756,8 triliun dan dana desa Rp 70 triliun.  Sedangkan penerimaan Rp 2.165,1 triliun dengan rincian pemasukan dari pajak Rp 1.786,4 triliun, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) Rp 378,3 triliun serta hibah sebesar Rp 0,4 triliun.

Ia menyatakan realisasi menjelang akhir tahun 2019 telah sesuai dengan yang telah direncanakan. Endah Martiningrum optimis dengan siswa waktu dua bulan yang ada target-target yang ditetapkan dapat tercapai seluruhnya.

“Tentunya kita komitmen untuk sesuai dengan perencanaan. Bahwa yang kita capai di sini bukan hanya capaian angarananya saja, tetapi juga tepat sasaran, tepat out put dan juga evisiensinya serta efektifitasnya. Jadi kami tetap optimis sampai akhir 2019 dapat tercapai,” tegasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI