ASC Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Muda Indonesia

JAKARTA, KRJOGJA.com – Melalui ajang ASEAN Skills Competition (ASC) pemerintah berupaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja muda Indonesia hingga mampu mencapai standar kompetensi di tingkat ASEAN. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri berharap, penyelenggaraan ASC di tahun-tahun mendatang semakin berkualitas dan kredibel.

"Ini baik dari segi penyelenggara, peserta, maupun kompetitornya. Untuk itu, saya ucapkan selamat kepada pemenang ASEAN Skills Competition yang akan mewakili Indonesia pada Oktober 2018 di Thailand," ujar Hanif saat menutup Seleknas ASC ke-12 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/9/2017).

Dalam kurun waktu 10 bulan ke depan, para pemenang seleksi nasional ASC ke-12 akan mendapatkan pelatihan yang intensif sebelum mengikuti gelarasn ASC. Ajang ASC merupakan pembuktian bahwa dunia kompetensi merupakan dunia yang penuh dengan persaingan.

"Ini merupaka suatu pertarungan bagaimana daya saing SDM bisa terus  dipertarungkan baik di ajang nasional maupun ditingkat regional ASEAN," kata Hanif. Ia menambahkan, baik pendidikan maupun pelatihan vokasi selama ini di pandang sebelah mata. Padahal realitanya banyak sarjana yang tidak memiliki keterampilan dan menganggur.

Soal keterampilan dan kompetensi ini, menurutnya, ibarat mata uang dalam persaingan global. Jika SDM indonesia tidak memiliki kompetensi tidak akan bisa bersaing dan kesempatan untuk menang. Karena itu, angkatan kerja muda Indonesai harus berada diatas standard pasar kerja. 

"Kenapa harus diatas standard, karena kalau di atas standard maka Anda pasti menang. Kalau Anda sesuai standar, Anda bisa menang, tapi kalau Anda di bawah standar Anda pasti kalah," tutur Hsnif seraya berharap generasi mileneal Indonesia menjadi generasi yang di atas standar pasar kerja sehingga tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. 

Hanif menandaskan, sudah saatnya Indonesia meninggalkan sumber daya alam sebagai tumpuan untuk melakukan pembangunan. "Ini karena selain persoalan lingkungan, kita juga tahu bahwa terus mengekploitasi alam akan mengakibatkan ketidak adilan antar generasi," tegasnya. (Ful)

 

BERITA REKOMENDASI