ASEAN Membahas Isu Kesetaraan Gender Melalui Olahraga

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Sekretariat ASEAN sukses menggelar talk show ‘ASEAN #WeScore’, Jumat (03/12/2021) mulai pukul 15.00 hingga 17.00 waktu Jakarta melalui Zoom dan YouTube live. Sekretariat ASEAN menyelenggarakan acara hybrid di Jakarta dengan sepuluh Duta Olahraga Wanita ASEAN terpilih yang berpartisipasi secara virtual.

Direktur Tomohiko Arai, Pemimpin SOMS Badan Olahraga Jepang Divisi Hubungan Internasional, secara resmi membuka talk show tersebut. Direktur Tomohiko Arai menyampaikan pidato langsung dari Jepang, mengatakan, di bawah Kerjasama ASEAN dan Jepang, perempuan dalam olahraga muncul sebagai salah satu bidang utama kerjasama olahraga.

Diakui, kemajuan yang dicapai dalam mempromosikan kesetaraan gender melalui diskusi dan pertukaran perspektif. Lebih lanjut, dikatakan, ASEAN akan mengambil langkah-langkah untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang menjunjung kesetaraan gender melalui olahraga.

Sementara itu, Asisten Profesor Fakultas Ilmu Olahraga dan Kesehatan Universitas Juntendo Aya Noguchi melaporkan hasil lokakarya ASEAN-Japan Workshop on Promoting Gender Equality in Sports yang diadakan pada tanggal 10-13 Agustus 2021 oleh Japanese Center for Research on Women in Sport.

Noguchi mengatakan bahwa lokakarya tersebut membahas serangkaian strategi spesifik negara yang dapat ditindaklanjuti untuk mempromosikan partisipasi perempuan dan anak perempuan dalam olahraga, serta untuk memberdayakan perempuan muda melalui olahraga dan membina generasi pemimpin muda berikutnya. Noguchi mengatakan bahwa lokakarya tersebut membuka peluang bagi para pemimpin perempuan muda untuk menyelami lebih dalam masalah gender dalam olahraga di negara masing-masing dan mengkomunikasikannya kepada pembuat kebijakan.

Adapun sesi talk show yang paling dinanti adalah perbincangan dengan sepuluh duta olahraga wanita; HRH Princess ‘Azemah Ni’matul Bolkiah (atlet polo dari Brunei Darussalam), Sokha Pov (atlet bela diri tradisional dari Kamboja), Leani Ratri Oktila (atlet para-bulu tangkis Indonesia), Soulamphone Kerdla (kepala pelatih tim renang nasional Laos), Farah Ann Abdul Hadi (atlet gimnastik Malaysia), Soe Soe Myar (atlet taekwondo dan wasit asal Myanmar), Hidilyn Diaz (atlet angkat besi Filipina), Amita Berthier (atlet anggar Singapura), Panikpak Wongpattanakit (atlet taekwondo Thailand), dan Tuyet Van Chau (atlet taekwondo dari Vietnam).

Jamshed M Kazi, Perwakilan Negara UN Women, Indonesia dan Penghubung ASEAN turut ambil bagian dalam diskusi sebagai komentator, memberikan pandangan ahli tentang kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Bertepatan dengan Hari Penyandang Disabilitas Internasional, talk show ASEAN #WeScore juga membahas tentang hak-hak penyandang disabilitas.

Peraih medali emas dan perak pada Paralimpiade Tokyo 2020 asal Indonesia, atlet para-bulutangkis Leani Ratri Oktila, mengucapkan terima kasih atas peringatan tahunan tersebut. “Saya merasa dihargai sebagai atlet paralimpiade,” katanya.

Namun, dia menyatakan keprihatinan atas pembatalan acara para-olahraga karena situasi COVID-19, sementara beberapa kompetisi olahraga non-para tetap diselenggarakan. Masing-masing dari sepuluh duta olahraga wanita berbagi pengalaman dan cerita pribadi mereka dalam diskusi yang berlangsung selama 45 menit, diikuti dengan sesi tanya jawab selama 25 menit. Selama sesi tanya jawab, penonton YouTube Live dan Zoom secara aktif mengajukan pertanyaan kepada semua duta olahraga.

Perbincangan inspiratif dengan duta olahraga wanita dan komentator ini berhasil mencapai lebih dari 700 penonton pada akhir acara dan menghasilkan beberapa pembelajaran yang berharga: Ketekunan, kepercayaan diri dan support system yang baik adalah kunci keberhasilan untuk mengatasi tekanan sosial yang sangat umum dalam industri olahraga; Diperlukan lebih banyak platform, infrastruktur, dan peluang untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam mewakili negara mereka dan mempersiapkan mereka untuk kepemimpinan dalam olahraga; Liputan media dan program penjangkauan penting untuk memperkuat isu dan melibatkan lebih banyak orang; Pembatalan event para-olah raga akibat pembatasan pandemi berpotensi mendemotivasi atlet penyandang disabilitas; serta lebih banyak dukungan harus diberikan kepada platform para olahraga, terutama dengan memberikan perhatian dan prioritas yang setara.

Dalam diskusi ini juga menekankan bahwa atlet harus diperhatikan dan difasilitasi karena mereka memiliki pengaruh yang besar dalam mendukung kesetaraan gender, gaya hidup sehat, dan banyak masalah lain di sekitarnya seperti pelecehan seksual dan kekerasan. Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Berbasis Gender yang juga bertepatan dengan acara ini merupakan kesempatan untuk bekerja sama dengan para atlet khususnya dalam peran advokasi.

Ditegaskan pula bahwa ASEAN dan industri olahraga telah belajar banyak dari pandemi ini. Olahraga dalam lingkup regional harus terus berkembang untuk menginspirasi dan mendidik lebih banyak orang tentang cara beradaptasi.

Acara pun ditutup dengan kata penutup oleh Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN, Ekkaphab Phanthavong. Beliau menyoroti warisan Olimpiade Tokyo 2020 sebagai permainan yang paling seimbang secara gender sejak pertama didirikan,” Phanthavong kemudian menambahkan, “Belajar dari diskusi kita dengan para duta dan pakar olahraga, kita semua perlu berpikir di luar pencapaian perempuan dan anak perempuan dalam kegiatan dan kompetisi olahraga. Kita harus mulai memperhatikan kepemimpinan dan jenjang karir perempuan di lembaga olahraga, serta keselamatan dan perlindungan mereka.”

Kampanye “ASEAN #WeScore” merupakan bagian dari ASEAN-Japan Actions on Sports, sebuah proyek di bawah naungan SOMS+Japan yang didanai oleh Pemerintah Jepang melalui Japan-ASEAN Integration Fund. Sebelum acara talk show, Sekretariat ASEAN mengadakan “Tribute to Tokyo 2020 ASEAN Olympic and Paralympic Medalists” untuk menghormati dan merayakan prestasi para atlet ASEAN di Asian Games.

Kampanye “ASEAN #WeScore” berkontribusi pada implementasi ASEAN Work Plan on Sports 2021-2025 dan sejalan dengan Visi ASEAN 2025 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB nomor 5: Mencapai Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Semua Perempuan dan Anak Perempuan. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI