Asuransi Jiwa Telah  Melindungkan Sekitar 75 juta Orang

Editor: Ivan Aditya

BANDUNG, KRJOGJA.com – Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Assosiasi Asuransi Jiwa Indonesia ( AAJI)  Wiroyo Karsono mengatakan, selama kuartal I tahun 2022 jumlah tertanggung atau peserta asuransi jiwa mencapai 75,45 juta orang atau mengalami pertumbuhan 18,1 persen dibanding periode sama tahun lalu. Dari 75,45 juta orang tertanggung asuransi jiwa tersebut mencakup 20,87 juta polis dengan uang pertanggungan lebih dari Rp 4.245 triliun.

“Ternyata ada lebih dari 75 juta orang Indonesia yang sudah dilindungi oleh asuransi jiwa. Dari  75,45 juta peserta asuransi jiwa tersebut, mencakup 20,87 juta polis dengan uang pertanggungan lebih dari Rp 4.245 triliun,” kata  Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI, Wiroyo Karsono, pada acara  media gatheringAAJI di Bandung,  Kamis – Jumat 30 Juni -1 Juli 2022.

Sementara untuk polis perorangan juga meningkat lebih dari 3 juta dan angka ini mampu mendorong pertumbuhan total polis industri asuransi jiwa sebanyak 17,4 persen . Total tertanggung pun meningkat sekitar 11,6 juta orang dengan 8,6 juta orang di antaranya berasal dari tertanggung kumpulan dan sisanya 3 juta dari  berasal dari tertanggung perseorangan.

“Ini satu perkembangan yang kita lihat sangat positif di mana dalam situasi pandemi semakin banyak orang yang percaya dan memiliki asuransi, terutama yang perorangan bisa menembus angka 3 juta,” ungkap Wiroyo.

Dijelaskan, untuk penerima manfaat, pada kuartal 1 tahun 2022 mencapai  5,32 juta orang telah menerima manfaat pembayaran klaim asuransi sepanjang kuartal I 2022. Dengan rincian sebanyak  3,06 juta orang  klaim asuransi kesehatan, 619 ribu  orang  klaim nilai tebus atau surrender, 357 ribu  orang klaim akhir kontrak, 231 ribu  orang atas klaim partial withdrawal dan 822 ribu orang atas klaim lain-lain.

“Khusus untuk pemberian klaim kesehatan kepada lebih dari 3 juta orang mencapai Rp 3,32 triliun sepanjang kuartal I tahun ini,” ujarnya.

Adapun  pembayaran klaim  pada kuartal I tahun 2022 mencapai Rp 43,4 triliun atau mengalami penurunan 14,9 persen dibanding kuartal I tahun 2021. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan nilai tebus surrender sebanyak 42,5 persen dan partial  withdrawal sebesar.

Sementara total pembayaran klaim sepanjang tahun lalu mencapai Rp 159,4 triliun yang sudah termasuk untuk kesehatan sebesar Rp 13,04 triliun dan meninggal dunia Rp 21,14 triliun.31,4 persen. Sementara penempatan investasi industri asuransi jiwa pada kuartal I tahun 2022 yakni penempatan saham dan reksadana mencapai Rp 306,5 triliun.

Ini untuk menjaga stabilitas pasar modal atau sekitar 59 persen dari dana kelola reksadana. Sementara penempatan investasi di Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 123,03 triliun. Iji untuk mendukung program pembangunan nasional jangka panjang.

“Total investasi lebih dari  Rp 545 triliun, itu unyuk menjaga stabilitas pasar modal dan selalu menjaga peningkatan  portofolio dalam bentuk  SBN unyuk mendukung program pemerintah,” paparhya.

Menyinggung tentang  penetrasi asuransi jiwa di Indonesia , Wiroyo mengatakan, penetrasi  asuransi jiwa di Indonesia masih relatif rendah dan tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, jika dilihat dari sisi rasio asset to Gross Domestic Product (GDP) densitas termasuk penetrasinya.

Pada tahun 2020  densitas atau rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk produk industri asuransi jiwa  hanya sebesar 54 dolar AS atau Rp 761.670 per tahun. Sementara tingkat penetrasinya hanya mencapai 1,2 persen untuk rasio pendapatan premi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan 7,8 persen untuk rasio tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk.

Dipaparkan, jika dilihat secara rinci pada densitas industri asuransi jiwa di Indonesia per tahun meliputi 59 dolar AS pada 2016, 73 dolar AS pada 2017, 58 dolar AS pada 2018, 58 dolar AS pada 2019 dan 54 dolar AS pada 2020. Densitas itu rendah dibanding Malaysia yang sebesar 298 dolar AS pada 2016, 339 dolar AS pada 2017, 361 dolar AS pada 2018, 380 dolar AS pada 2019 dan 415 dolar AS pada 2020.

Selanjutnya, jika dilihat melalui tingkat penetrasi industri asuransi jiwa di Indonesia secara rinci meliputi 1,3 persen terhadap PDB pada 2016, 1,4 persen PDB 2017, 1,3 persen PDB 2018, 1,2 persen PDB 2019 dan 1,2 persen PDB 2020. Tingkat penetrasi itu turut rendah dibandingkan Malaysia yang 3,2 persen terhadap PDB 2016, 3,3 persen PDB 2017, 3,3 persen PDB 2018, 3,4 persen PDB 2019 dan 4 persen PDB 2020

Sementara dari sisi rasio asset terhadap PDB sektor keuangan di Indonesia juga cenderung lebih rendah dibanding negara-negara di kawasan ASEAN termasuk mengenai industri asuransi. Sedangkan untuk banking asset to GDP Indonesia sebesar 59,5 persen, capital market capitalization to GDP sebesar 45,1 persen, insurance aset to GDP sebesar 5,8 persen dan pension fund to GDP sebesar 6,9 persen.

Hal itu tergolong rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yakni banking asset to GDP sebesar 206 persen, capital market capitalization to GDP sebesar 121,4 persen, insurance aset to GDP sebesar 20,3 persen dan pension fund to GDP sebesar 59,9 persen. Sedangkan banking asset to GDP Fillipina sebesar 100,6 persen, capital market capitalization to GDP sebesar 88,6 persen, insurance aset to GDP sebesar 8,5 persen dan pension fund to GDP sebesar 3,5 persen. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI