Bali Punya TPST “Zero Waste to Landfill”, Bisa Urai 120 Ton Sampah Sehari

Editor: Agus Sigit

BALI, KRJOGJA.com – Permasalahan sampah  tampaknya dialami hampir seluruh daerah di Indonesia terutama tujuan wisata seperti Bali dan Yogyakarta. Namun tampaknya, Bali kini selangkah lebih maju dari Yogyakarta dari sisi pengelolaan sampah.

Jumat 10 September 2021 kemarin, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampahku Tanggung Jawabku (Samtaku) yang berlokasi di Jimbaran. TPST ini dibangun di atas lahan seluas 5000m2, dan merupakan kolaborasi antara pemerintah – swasta yakni Danone-AQUA serta PT Reciki Mantap Jaya (Reciki) sebagai pengelola.

TPST ini kini menjadi yang terbesar di Bali, dengan kapasitas pengelolaan sampah maksimum mencapai 120 ton/hari. Pengelolaan sampah di TPST Samtaku Jimbaran sepenuhnya diinisiasi oleh pihak swasta menggunakan model ekonomi sirkular dan Zero Waste to Landfill, artinya sampah yang terkumpul di fasilitas ini nantinya akan dikelola dan dapat dimanfaatkan kembali seluruhnya sehingga tidak ada yang terbuang ke lingkungan atau berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Termasuk diantaranya adalah botol plastik bekas yang akan dikirim ke pabrik daur ulang milik Veolia untuk diolah menjadi material rPET (recycled PET) sebagai bahan baku botol plastik baru Danone-AQUA. Sampah organik akan dikelola menjadi kompos dan sebagian akan diproses bersama dengan sampah residu dengan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) untuk menghasilkan bahan bakar,” ungkap Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Development Danone Indonesia melalui siaran pers tertulis pada KRjogja.com, Sabtu (11/9/2021).

Sementara, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan kolaborasi pemerintah daerah dan swasta seperti ini merupakan contoh yang sangat bagus untuk diterapkan dalam menangani persampahan, sekaligus implementasi dari perubahan paradigma pengelolaan sampah secara terintegrasi dengan pendekatan ekonomi sirkular. Pemerintah menurut dia sudah menyepakati langkah-langkah penyelesaian penanganan sampah, dengan melakukan revitalisasi TPS-3R dan membangun TPST baru agar sampah dapat ditangani sedekat mungkin dari sumbernya.

“Ditambah lagi dengan adanya TPST seperti Samtaku ini yang menerapkan teknologi yang lebih advance dalam pengolahan sampah, diharapkan timbulan sampah di Bali dapat ditangani hampir seluruhnya, sehingga kita tidak lagi tergantung dengan TPA. Pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik, merupakan komitmen prioritas Pemerintah Indonesia,” tegas Luhut.

I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung mengatakan setiap harinya, sampah yang dihasilkan di Bali mencapai 4.281 ton, atau 1,5 juta ton setiap tahun. Dari jumlah tersebut, baru 48 persen dapat dikelola, sementara 52 persen lagi belum terkelola dengan baik.

TPST Samtaku Jimbaran merupakan replikasi dari fasilitas serupa yang sebelumnya telah dibangun di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. TPST di Lamongan telah berhasil mengurangi jumlah timbunan sampah ke TPA hingga 70 persen dengan mengedepankan prinsip-prinsip inklusivitas.

TPST Samtaku Jimbaran ini mempekerjakan 48 orang sebagai karyawan, yang hampir seluruhnya berasal dari masyarakat sekitar. Seluruh karyawan dibekali dengan jaminan kesehatan dan keamanan dalam bekerja melalui fasilitas BPJS.

Gerakan Danone-AQUA di Bali terus berjalan dengan pengoperasian 2 unit bisnis daur ulang botol plastik oleh BaliPET, bank sampah, serta pengumpulan sampah plastik secara digital menggunakan aplikasi Octopus. Saat ini, Danone-AQUA juga menjalankan kemitraan bisnis daur ulang botol plastik bekas melalui pengembangan bank sampah, TPS3R/TPST, dan pengepul sampah plastik di 17 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, serta berhasil mengumpulkan setidaknya 13.000 ton botol plastik bekas per tahun sambil turut memberdayakan lebih dari 9.000 pemulung. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI