Balitbangtan Kembangkan Gliocompost Pupuk dan Pestisida

CIANJUR, KRJOGJA.com – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berhasil kembangkan Gliocompost pupuk dan pestisida dalam satu formula

Peneliti dan Balitbangtan Prof Dr Ika Djatnika kepada wartawan di Cianjur menjelaskan pengembangan pupuk dan pestisida dalam satu formula ini karena udara dan kelembaban tinggi di negara tropis menjadi pemicu tumbuh suburnya beragam jenis hama dan penyakit tanaman. Namun pada saat bersamaan obat penawarnya pun banyak tersedia di seluruh Nusantara.

"Kita tahu banyak kearifan lokal yang memanfaatkan pembasmi hama alami yang ditinggalkan karena dianggap tidak praktis penggunaanya. Padahal dengan sentuhan teknologi dan pengemasan yang modern, pembasmi hama lami pun bisa bersaing secara komersial," ujarnya.

Prof Ika menjelaskan formula yang merupakan kombinasi antara kompos dan cendawan antitesa hama itu merupakan pupuk organik sekaligus biopestisida yang mampu mengendalikan serangan penyakit berbagai tanaman pangan dan hortikultura. Formula yang dirakit tim Balithi sejak 2010 itu berbentuk tepung berbahan aktif Gliocladium sp, sejenis cendawan antagonis yang diperkaya dengan mikroba penambat unsur hara. 

"Biofungisida ini bisa berperan sebagai pupuk hayati dan fungisida yang sangat efektif mengendalikan berbagai patogen tanaman. Aplikasi pupuk kimia sintetis di lapangan misalnya pupuk P (Phosphor) biasanya hanya 10-20% yang diserap oleh tanaman. Sisanya banyak yang mubazir, tidak terserap oleh tanaman. Dengan adanya mikroorganisme ini, pupuk yang 80-90% terbuang tadi bisa dimanfaatkan kembali,” terang Djatnika.

Dia juga telah diaplikasikan pada tanaman bawang merah, cabai, padi dan pisang skala super impose dan demplot. Hasilnya menunjukkan bahwa Gliocompost konsisten dapat menekan penyakit layu dan busuk buah serta dapat mempertahankan hasil panen cabai sebanyak 13,40%.

Sebagai pupuk hayati, Gliocompost adalah bahan organik yang kaya akan unsur hara mikro dan makro, serta berbagai mikroba tanah berperan dalam penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman. Menurut Ika, hal itu telah dibuktikan melalui penelitian kerjasama antara Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) dan Komisi Inovasi Nasional (KIN). (Ati)

 

BERITA REKOMENDASI