Bandara Juanda Dilengkapi Alat Canggih ASMGCS dan CDU

SURABAYA.KRJOGJA.com-  Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) berkomitmen untuk memberikan layanan navigasi penerbangan yang aman, selamat dan nyaman. Salah satu upayanya dengan memasang peralatan canggih dan modern di bandara yang padat lalu lintas (traffic) penerbangannya.

Peralatan canggih yang sangat penting dalam mendukung kinerja Airnav adalah Advanced Surface Movement Guidance and Control System (ASMGCS) dan Clearance Delivery Unit (CDU). "Kedua alat ini dapat membantu dan mempermudah pemandu lalu lintas udara dalam memantau pergerakan pesawat terbang," kata General Manager AirNav Cabang Surabaya, Yasrul di Kantornya, Jumat,(27/09/2019).

ASMGCS dan CDU sudah banyak digunakan di sejumlah bandara internasional di berbagai negara. Di Indonesia, kedua alat tersebut sudah dipasang di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng dan Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Mengingat sangat pentingnya dua peralatan canggih dan modern tersebut, Airnav segera memasang peralatan serupa di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Yasrul mengatakan, salah satu alasan dipasangnya kedua alat tersebut di Bandara Juanda, karena bandara ini memiliki traffic penerbangan yang sangat tinggi. "Alat ini selain banyak membantu petugas pemandu lalu lintas udara, juga mampu meningkatkan kapasitas runway," ujarnya.

Dijelaskan Yasrul, fungsi ASMGCS yang dipasang di menara air traffic control (ATC) untuk mengamati pesawat saat melakukan pergerakan di landas hubung (taxiway) dan landas pacu (runway). Selain itu juga untuk mendeteksi pergerakan pesawat, baik menuju atau dari tempat parkir pesawat (apron) yang tidak bisa terlihat secara visul dari menara ATC.

“Sebelum ada ASMGCS keberadaan pesawat terbang tidak bisa terlihat pada siang hari saat hujan dan kondisi cuaca yang buruk. Tapi dengan ada alat itu maka pesawat bisa terlihat pada situasi apapun,” kata Yasrul.

Selain itu, jika tanpa ASMGCS kemungkinan bisa terjadi kesalahan tanda panggil pada urutan pesawat yang akan terbang. Namun dengan alat itu maka tanda panggil terakurasi pada urutannya.

Keunggulan lainnya ASMGCS, yakni pemandu lalu lintas penerbangan dapat dengan mudah membedakan tipe dan pesawat yang berada di area apron, taxiway maupun runway. "Tipe dan jenis pesawat akan tertulis secara otomatis dan jelas di layar monitor," jelas Yasrul.

Manager Operasi AirNav Cabang Surabaya, Budhi Winarto mengatakan, prinsip kerja ASMGCS adalah menggunakan antene pendeteksi sinyal melalui sensor yang dipasang pada posisi geografis di sekitar bandara atau cakupan area yang ditunjuk pesawat atau kendaraan harus mengirimkan Mode S. "Kalau di Bandara Juanda kita memasang 13 sensor yang terletak diberbagai titik strategis yang dilalui oleh pesawat terbang,” katanya.

Mengenai manfaat alat CDU, menurut Budhi, untuk memastikan semua pesawat yang akan berangkat telah memiliki rencana penerbangan yang valid serta memperoleh informasi yang relevan terkait kondisi cuaca, hingga slot timenya.

Selain itu juga, CDU mampu mengurangi keterlambatan keberangkatan pesawat (delay), data penerbangan menjadi lebih akurat dan terkoreksi, serta mengurangi potensi kehilangan data penagihan. "Intinya adalah manfaat kedua alat tersebut untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan penerbangan baik saat di darat maupun udara,” kata Budhi

Pergerakan pesawat di Bandara Juanda saat mencapai 400 an pergerakan setiap hari. Kondisi ini menjadikan Bandara Juanda sebagai bandara tersibuk kedua di Tanah Air setelah Bandara Soekarno Hatta. (Imd)

BERITA REKOMENDASI