Bangkai 75 Tahun Sebar Antraks di Siberia

SIBERIA (KRjogja.com) – Suhu udara yang meningkat di wilayah tundra di Yamal, Siberia, turut membangkitkan organisme yang selama ini tertidur dan membeku. Salah satu dari organisme tersebut adalah bakteri antraks yang kini mewabah di Siberia.

Gubernur Dmitry Kobylkin, seperti dilansir Telegraph, Selasa (2/8/2016), seorang anak kecil meninggal dunia akibat antraks dan sedikitnya 20 warga nomaden Yamal lainnya telah didiagnosa terjangkit bakteri berbahaya itu. Selain korban manusia, wabah antraks juga telah membunuh 2.300 rusa kutub yang bermukim di wilayah tersebut.

Menurut laporan NBC News, penjangkitan wabah kali ini berasal dari bangkai rusa kutub yang telah mati 75 tahun lalu saat terakhir kali wabah antraks yang mematikan menyebar di Siberia. Bangkai yang selama ini membeku di kawasan tundra tersebut mencair akibat naiknya suhu udara dan mengaktifkan kembali bakteri yang ada di dalamnya. Tundra sendiri merupakan daerah padang bersuhu rendah dan hanya dihuni organisme terbatas.

Kobylkin telah mengumumkan keadaan darurat di wilayahnya dan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mengisolasi area dan mencegah makin meluasnya wabah tersebut.

“Sekarang yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan rekan senegara kami. Para penggembala rusa kutub dan para spesialis ikut dilibatkan dalam karantina,” kata Kobylikin.

Wabah antraks telah beberapa kali menjangkiti Rusia, termasuk insiden yang terjadi akibat kecelakaan di fasilitas militer pada 1979. Meski begitu, bakteri antraks yang kembali bangkit setelah 75 tahun bukanlah sebuah kejadian yang umum, bahkan bisa dikatakan mirip dengan cerita dari film-film horor. (*)

 

BERITA REKOMENDASI