BKKBN Gencarkan Posyandu online

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) akan menggaungkan 'posyandu online'. Sistem ini  bertujuan untuk meningkatkan pelayanan posyandu dengan basis data terstruktur dengan baik 

"Dengan  posyandu online kader dapat melaporkan data warganya secara online. Jadi data lebih cepat masuk dan dapat segera dianalisa. Pelayanan pun akan lebih baik dan terarah sehingga akan didapatkan solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan yang timbul dalam pengelolaan posyandu," kata Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.oG (K) pada acara Wisuda Angkatan Kedua Akademi Keluarga Hebat Indonesia Tahun 2019 di Auditorium BKKBN Pusat, Jakarta (12/12/2019).

Hasto menjelaskan selama ini posyandu dilakukan secara manual. Dalam upaya meningkatkan pelayanan, diperlukan adanya perubahan yang salah satunya sekarang ini mulai menggunakan sistem online.

Dalam sambutannya Hasto mengatakan Stunting (gizi buruk kronis) merupakan salah satu masalah gizi dalam masyarakat Indonesia yang belum terselesaikan hingga saat ini. 

Berdasarkan data pemantauan status gizi, Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Penanganan stunting yang paling tepat adalah pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

“Pondasi utama kehidupan manusia di masa depan dapat dipengaruhi oleh pengasuhan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, yang dimulai sejak awal konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir (hingga anak berusia 2 tahun). Pada periode tersebut, terjadi perkembangan otak, pertumbuhan badan, perkembangan sistem metabolisme tubuh dan pembentukan sistem kekebalan tubuh yang begitu cepat.” jelas Hasto .

Hasto  yang juga mantan Bupati Kulon Progo itu juga menjelaskan apabila periode 1000 HPK tidak dimanfaatkan dengan optimal, maka beberapa kemungkinan dapat terjadi seperti berisiko mudah terserang penyakit ketika usia bayi, balita serta usia lanjut dan berisiko mengalami gizi buruk kronis atau stunting.

“Serta berdampak penurunan tingkat kecerdasan (IQ), bahkan jangka panjangnya dapat berpengaruh terhadap produktivitasnya karena yang mempengaruhi perkembangan otak dan pertumbuhan janin adalah toksin, gizi, infeksi, stress, radiasi, dan hormon,” tuturnya. 

Sementara Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Subandi menjelaskan untuk mengukur kecerdasan seorang anak dimasa depan adalah dengan melihat permasalahan-permasalahan dalam kehidupan keluarganya. 

"Jika dalam satu keluarga itu tidak pernah terjadi masalah atau tidak diajarkan kekerasan, maka dapat dipastikan anak kelak akan menjadi sosok yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa. Subandi mengatakan pola asuh yang diberikan keluarga kepada anak-anak sangat berkaitan erat dengan karakter anak-anak dalam tumbuh kembangnya dan akan terbawa sampai dewasa, bahkan sampai mereka membentuk keluarga sendiri." (Ati)

BERITA REKOMENDASI