BMKG Kembali Ingatkan Penduduk ‘Jauhi’ Anak Krakatau

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Meteorologi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) kembali mengimbau penduduk untuk menjauh setidaknya 500m hingga 1km dari bibir pantai menyusul kekhawatiran terhadap tsunami susulan. Cuaca ekstrim di Selat Sunda dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau diyakini memperbesar ancaman tersebut.

“Semua kondisi saat ini berpotensi memicu longsor dinding kawah ke dalam laut. Dan saya khawatir ini akan memicu tsunami,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada media Jumat (28/12/2018) malam. Meski demikian ia meminta masyarakat tetap bersikap tenang dan tidak panik.

Gelombang tsunami yang disebabkan longsor material gunung Anak Krakatau menyapu pesisir barat Banten dan timur Lampung pada Sabtu (22/12/2018) dan menewaskan lebih dari 400 orang. Lantaran tidak ada gempa bumi yang menyulut alarm bahaya, kebanyakan mengira hanya air pasang. Sebab itu Presiden Joko Widodo memerintahkan BMKG untuk membeli perlengkapan deteksi dini tsunami pada 2019 nanti.

Untuk sementara BMKG menggandeng Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG) untuk bertukar data pengamatan. Jika BMKG memiliki data gempa bumi, PVMBG menggawangi pengamatan erupsi gunung berapi. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berharap dengan menyatukan data dari kedua instansi, Indonesia di masa depan bisa lebih siaga menghadapi bencana tsunami.

“Kami sudah memasang enam sensor siesmometer yang telah dimodifikasi untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Karnawati kepada media, Jumat (28/12/2018).

Sensor tersebut diperlukan menyusul ancaman lanjutan dari Anak Krakatau. Sesuai studi ilmiah Giachetti, lereng barat daya yang curam dan berlokasi di tepi kaldera membuatnya rentan terkena longsor. Hal ini diwanti-wanti oleh Widjokongko, “kita ketar-ketir,” kata dia.

“Longsor kemarin menciptakan kemiringan yang lebih curam,” ujarnya. “Dan itu bisa menimbulkan longsor yang lebih besar karena erupsinya bersifat eskalatif.” (*)

BERITA REKOMENDASI