BPOM Percepat Kemandirian Industri Obat

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) terus mempercepat  kemandirian perijinan industri obat karena diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016.

"Kemandirian industri obat dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan kita kepada impor bahan baku obat. Selain itu  juga berupaya meningkatkan daya saing industri obat, obat tradisional dan pangan buatan dalam negeri," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito di Jakarta, Kamis (13/12 2019) usai Dialog Nasional dengan mengangkat tema 'Sinergitas Dalam Hilirisasi Riset Obat, Obat Tradisional dan Pangan Untuk Percepatan Perizinan'.

BACA JUGA :

BBPOM Yogya Raih Predikat Wilayah Bebas Korupsi 2019

Lewat KIE Ritel dan Pameran BPOM Ajak Masyarakat jadi Konsumen Cerdas

Menurut Penny sebagai otoritas obat dan makanan di Indonesia, BPOM melakukan pengawalan sepanjang siklus mata rantai produk. Bahkan, BPOM merupakan satu kesatuan mencakup pre-market dan post-market dari suatu produk.

Penny mengatakan di antara pelaksanaan Inpres 6/2016 itu, BPOM ikut mendorong agar hasil riset seperti di universitas universitas dapat menjadi produk terapan yang bermanfaat. "Agar hasil penelitian tidak hanya di literatur saja tapi menjadi produk yang bermanfaat,” katanya.

Ia mengatakan hasil riset yang menjadi produk terapan tentu sangat diharapkan. Misalnya, riset di dunia farmasi jika mampu menelurkan produk tentu dapat menekan harga obat.

“Lewat ‘clinical trial’ bisa menghasilkan obat substitusi terhadap obat kimia impor yang lebih mahal, karena bahan baku lebih mahal. Ketergantungan masih tinggi. Bagaimana mendapatkan riset menjadi obat fitofarmaka sebagai pengganti,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Penny menyampaikan kebanggaan adanya produk riset yang sudah berhasil mendapatkan izin edar, yaitu stemcell atau sel punca produksi Pusat Pengembangan Penelitian Stem Cell Universitas Airlangga Surabaya bersama PT Phapros.

Selain itu, kata dia, terdapat Albumin yang berasal dari ikan gabus yang dikembangkan oleh Universitas Hasanudin Makassar bersama PT Royal Medika. “Terdapat juga produk biologi yang sedang dikembangkan yaitu enoxaparin bersumber domba, trastuzumab dan sejumlah vaksin antara lain MR, Hepatitis B, Tifoid, Rotavirus, Polio. Sedangkan untuk produk fitofarmaka antara lain ekstrak seledri, binahong, daun kelor, daun gambir dan bajakah,” katanya.(ati)

BERITA REKOMENDASI