BPS Waspadai Efek Kenaikan Harga Rokok

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melihat peluang kenaikan tingkat inflasi pada 2020. Sebab, sejumlah harga komponen pengeluaran akan meningkat pada tahun ini, seperti harga rokok hingga tarif tol.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi akan terkerek lantaran kebijakan kenaikan tarif cukai rokok dari pemerintah. Per 1 Januari 2020 kemarin, pemerintah resmi mengerek tarif cukai rokok dengan rata-rata sebesar 23 persen dan akan meningkatkan harga jual eceran rokok sekitar 35 persen.

"Kenaikan rokok iya (berdampak ke inflasi), tapi berapa besarnya nanti kita lihat di Februari 2020 (saat rilis inflasi Januari)," ujar Suhariyanto.

Apalagi, sambungnya, harga rokok kerap menjadi salah satu komponen yang berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. Pada tahun lalu saja, harga rokok kretek filter menjadi penyumbang inflasi tertinggi keenam dengan andil 0,06 persen.

Kendati begitu, ia belum bisa memperkirakan berapa persen sumbangan kenaikan harga rokok mulai awal tahun ini ke tingkat inflasi nasional ke depan. Sebab, menurutnya, ada kemungkinan peningkatan inflasi tidak terlalu signifikan lantaran pedagang sudah mengantisipasi kenaikan dengan penyesuaian harga sejak beberapa bulan terakhir.

"Tapi seperti yang saya bilang sebenarnya harga rokok sudah naik dari beberapa bulan lalu. Rokok naik, tiap bulan, itu kalau diperhatikan ada tiga jenis, itu sudah ada kenaikan 0,01 persen, bulan ini 0,03 persen," jelasnya.

Selain kenaikan harga rokok, ada peluang kenaikan inflasi dari kenaikan tarif tol di sejumlah ruas mulai awal tahun ini. Namun, ia melihat peluang kontribusi inflasi dari kenaikan tarif tol bisa tidak tinggi karena bukan komponen pengeluaran utama masyarakat. (*)

BERITA REKOMENDASI