Dampak Pandemi Membuat Kinerja Asuransi Belum Optimal

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil mengatakan, pandemi vovid-19 yang mengakibatkan kontraksi ekonomi nasional memiliki multiplier effect terhadap penurunan kinerja perusahaan asuransi baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. Berdasar hasil kajian Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), terlihat jelas dampak pandemi covid-19 yang melanda Indonesia hampir 10 bulan terakhir di tahun 2020.

Kajian dilakukan atas laporan keuangan publikasi 70 perusahaan asuransi umum, di luar asuransi umum syariah full fledged, dan 3 perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangannya saat kajian dilakukan.

LRMA mencatat, premi bruto asuransi umum turun 3,79 persen, dari Rp 59,93 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 57,66 triliun per Desember 2020. Sedangkan premi neto turun 4,25 persen yoy, dari Rp 34,94 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 33,45 triliun per Desember 2020.

Namun di sisi lain, nilai klaim tetap tumbuh di masa pandemi ini. Klaim neto industri asuransi umum tumbuh 5,57 persen, dari Rp 19,84 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 20,94 triliun per Desember 2020. Sementara itu utang klaim turun 18,56 persen, yakni dari Rp 1,32 triliun per Desember 2019 menjadi Rp1,08 triliun per Desember 2020.

“Penurunan utang klaim ini melanjutkan apa yang terjadi pada periode tahun sebelumnya, yakni utang klaim 2019 jika dibandingkan dengan utang klaim 2018 yang turun 14,35 persen yoy,” kata Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil, pada acara webinar dan Best Insurance Award 2021, di Jakarta, Kamis (11/11/2021).

Secara keseluruhan, nilai aset industri asuransi umum tercatat naik 3,15 persen, dari Rp 134 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 138,23 triliun per Desember 2020. Seiring peningkatan aset, nilai investasi juga meningkat 0,90 persen, dari Rp 68,73 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 69,35 triliun per Desember 2020. Sedangkan nilai ekuitas tumbuh 5,95 persen, dari Rp 50,47 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 53,47 triliun per Desember 2020.

Seiring pertumbuhan premi, cadangan teknis pun meningkat. Cadangan teknis tercatat meningkat 3,57 persen, yakni dari Rp 58,3 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 60,38 triliun per Desember 2020. Sejalan dengan kondisi ini, laba industri asuransi di 2020 jika dibandingkan tahun sebelumnya juga turun. Namun perlu diingat bahwa industri asuransi umum tetap membukukan laba di 2020.

Laba sebelum pajak di 2020 tercatat Rp 5,34 triliun, turun dibandingkan laba sebelum pajak 2019 tercatat Rp 5,63 triliun. Sedangkan laba bersih setelah pajak 2019 sebesar Rp 4,89 triliun dan di tahun 2020 sebesar Rp 4,44 triliun.

Sementara untuk asuransi jiwa, Mucharor mengatakan, harus diakui pencapaian kinerja industri asuransi jiwa secara keseluruhan di sepanjang 2020 berdasarkan tabel sajian dari LRMA hasilnya masih belum lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Laba (rugi) sebelum pajak berubah positip dari Rp 13,16 triliun pada 2019 menjadi Rp 14,39 triliun di 2020. Pendapatan premi tumbuh sangat tipis 1,61 persen, dari Rpv165,54 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 168,20 triliun per Desember 2020. Pertumbuhan premi ini tetap diikuti klaim yang melonjak dari tahun sebelumnya. Beban klaim dan manfaat naik 53,25 persen, dari Rp 136,43 triliun di 2019 menjadi Rp 209,08 di 2020.

Sementara itu, dari sisi aset naik 2,84 persen, dari Rp 514,24 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 528,85 triliun per Desember 2020. Ekuitas tumbuh 3,56 persen, dari Rp 104,55 triliun di 2019 menjadi Rp 108,27 triliun di 2019.

Sedangkan cadangan premi tumbuh tipis 2,40 persen dari Rp 357,88 triliun pada 2019 sebesar Rp 366,49 triliun di tahun selanjutnya. Untuk cadangan teknis naik 2,97 persen dari Rp 368,52 triliun pada 2019 meningkat Rp 379,48 triliun di 2020.

Dikatakan, untuk kinerja asuransi syariah 2020, dari hasil kajian oleh LRMA, 11 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah full fledged di Indonesia dari 13 perusahaan, namun 2 perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangannya menunjukkan kinerja cukup menggembirakan di 2020.

Hal ini dapat dilihat dari hasil kontribusi bruto meningkat 9,20 persen. Pada 2019 kontribusi tercatat sebesar Rp 1,78 triliun dan di 2020 meningkat menjadi Rp1,95 triliun atau mengalami kenaikan sekitar Rp 160 miliar.

Tumbuhnya kontribusi bruto ini memberikan dampak positif pada perolehan ujroh pengelola meningkat 10,90 persen, tahun 2019 tercatat Rp 633,53 miliar dan di 2020 sebesar Rp 702,57 miliar. Namun hasil underwriting dana tabarru’ anjlok 18,82 persen, dari sebelumnnya surplus Rp 28,93 miliar di tahun 2019 menjadi defisit Rp 5,44 miliar di 2020.

Kinerja positif lainnya dapat dilihat dari pertumbuhan aset yang naik 3,75 persen. Pada 2019, aset tercatat Rp 8,43 triliun, sedangkan tahun 2020 senilai Rp 8,74 triliun. Peningkatan juga terjadi dari sisi ekuitas, tahun 2020 mencapai Rp 1,91 triliun, naik dari 2019 senilai Rp1,82 triliun atau naik 5,25 persen. Pencapaian positif lainnya perolehan laba sebelum pajak yang menguat 5,48 persen, dari Rp 112,36 miliar di 2019 menjadi Rp 118,52 miliar pada 2020.

Menarik juga untuk disimak dari cadangan teknis naik 17,65 persen. Di 2019 nilainya Rp 1,77 triliun, namun 2020 menjadi Rp 2,09 triliun. Di sisi lain, kas dan bank industri ini tumbuh 40,01 persen menjadi Rp 386,50 miliar pada 2020, dari sebelumnya Rp 276,05 miliar di tahun 2019. Kinerja industri syariah yang positif juga dapat dilihat dari rasio solvabilitas dana perusahaan (rata-rata industri) yang mengalami kenaikan dari 1.693 persen pada 2019 menjadi 2.044 persen di tahun 2020.

Sementara untuk kinerja Reasuransi 2020, tahun 2020 menjadi tahun sangat menantang bagi perusahaan reasuransi Tanah Air. Alhasil, perusahaan reasuransi pun ikut menanggung beban tersebut.

Terbukti, hasil kajian Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) atas laporan keuangan publikasi perusahaan reasuransi periode 2019-2020 mencatat bahwa mayoritas perusahaan reasuransi mencatatkan kontraksi pendapatan premi bruto.

Hasil kajian LRMA mencatat bahwa dari 18 indikator keuangan industri reasuransi, sebanyak 6 indikator mencatatkan kontraksi yaitu indikator kas dan bank, hasil underwriting, jumlah beban usaha, laba sebelum pajak, laba setelah pajak, dan rasio beban (rata-rata industri).

Padahal, tahun 2019, hanya satu indikator keuangan yang mengalami kontraksi yaitu rasio beban (rata-rata industri). Dari sisi pertumbuhan pun sejumlah indikator keuangan pada 2020 tercatat melambat dibandingkan kinerja 2019.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan cadangan teknis hanya 5,17 persen tahun 2020 menjadi Rp 10,46 triliun dibandingkan pada 2019 sebesar Rp 9,95 triliun. Namun, beban klaim neto naik 11,54 persen menjadi Rp 5,79 triliun pada 2020. Alhasil secara bottom line, industri reasuransi sepanjang 2020 membukukan penurunan laba setelah pajak 27,94 persen menjadi Rp 476,38 miliar dibandingkan 2019 sebesar Rp 661,07 miliar.

Meski membukukan penurunan kinerja profitabilitas, industri reasuransi berhasil menjaga tingkat solvabilitas-nya dimana rasio Risk Based Capital (RBC) rata-rata industri pada 2020 tumbuh 9,13 persen menjadi 497 persen dibandingkan dengan 2019 sebesar 455 persen. Sementara itu, rata-rata rasio kecukupan investasi (RKI) juga naik 11,74 persen pada 2020 menjadi 289,4 persen dibandingkan dengan 2019 sebesar 259 persen. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI