Darodji-Ali Mufiz Ajak Muhasabah Kebangsaan

SEMARANG, KRJOGJA.com – Ketum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji Msi dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng Drs KH Ali Mufiz MPA, mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bermuhasabah, memanfaatkan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriyah, yang jatuh 20 November 2018.

“Peringatan Maulid Nabi 1440 hijriyah patut kita jadikan momentum strategis untuk mengevaluasi diri di semua aspek kehidupan. Saatnya kita meneladani perilaku Rasulullah sebagai sosok yang uswatun hanasah, yang mampu membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin secara sempurna,” tegas Kiai Darodji pada Live Dialog Interaktif program ‘Ulama Menyapa’ di TVKU, Senin (19/11/2018).

Live yang dipandu host Myra Azzahra dan dihadiri Rektor Udinus Prof Dr Ir Edy Noersasongko M.Kom, kata Koordinator Program, KH Muhyiddin MAg, sebagai siaran perdana. Selanjutnya program tersebut akan hadir setiap Senin pukul 09.00-10.00.  Dua nasum senior tersebut sengaja ditampilkan di perdana sebagai upaya sosialisasi kepada masyarakat. Tema yang diangkat, Maulid Nabi sebagai Momentum Muhasabah Kebangsaan.

Dalam dialog tersebut KH Ali Mufiz menegaskan, muhasabah sebagai hal penting untuk mengoreksi terhadap cara-cara yang selama ini dilakukan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan keteladanan yang diajarkan Rasulullah,” katanya.

Menurut mantan Gubernur Jateng ini, meski hanya sedikit yang dapat kita teladani dari sunah beliau, tapi sedikit tersebut harus benar-benar diikhtiari. Misalnya sikap toleransi, tak diskriminatif, sabar hendaknya mampu menggugah kita untuk mencontoh. Beliau seorang pemimpin yang merasakan penderitaan semua umat tanpa memandang agama dan suku.

Kiai Darodji mengerucutkan, hal yang patut dievaluasi dalam proses demokrasi, pemunculan istilah tahun politik. Penyebutan tersebut memicu gejolak di tengah masyarakat. Hingga  saling berhadapan. Berbagai fitnah, ujaran kebencian, provokasi, adu domba dan ghibah berseliweran di media sosial.

Situasi tersebut tak kondusif. Kiai Darodji mengusulkan tak perlu penyebutan tahun politik karena terselenggara setiap lima tahun. Lebih baik sebutan ‘tahun politik’ dikembalikan kepada ‘ruh’ aslinya yakni pesta demokrasi. Sehingga semua rakyat menyambut dengan gempita dan tak berseliweran hoax di medos. “Selama ini kita dipertontonkan dengan konflik internal partai, benturan antar institusi yang nuasannya serba negatif,” kritik Kiai Darodji.

Kiai Ali Mufiz menambahkan, muhasabah juga untuk saratnya kepala daerah yang terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Selama 2018 sebanyak 37 yang terjaring. Saatnya pemimpin punya bersikap bijaksana dan empati terhadap rakyat. “Pemimpin harus punya rasa perihatin atas penderitaan orang lain, sebagaimana Rasulullah,” katanya. (Isi)

BERITA REKOMENDASI