Daya Beli Buruh Tani Mei Membaik

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat daya beli buruh tani meningkat pada Mei 2020. Hal itu terjadi karena penurunan harga kebutuhan sehari-hari alias deflasi di pedesaan.

Sementara daya beli buruh bangunan, potong rambut, dan asisten rumah tangga turun karena peningkatan harga kebutuhan atau inflasi pada bulan lalu. Kepala BPS Suhariyanto mencatat tingkat daya beli buruh tani tergambar dari perhitungan upah riil yang naik 0,21 persen dari Rp52.214 menjadi Rp52.321 per hari.

Sementara upah nominal yang mencerminkan tingkat pendapatan naik 0,14 persen dari Rp55.318 menjadi Rp55.396 per hari. “Upah buruh masih meningkat karena indeks konsumsi rumah tangga mengalami deflasi sebesar 0,07 persen pada bulan lalu di pedesaan,” katanya, Senin (15/6).

Sebaliknya, tingkat daya beli buruh bangunan di perkotaan justru turun. Upah nominal buruh bangunan sejatinya meningkat 0,01 persen dari Rp89.675 menjadi Rp89.684 per hari.

Namun, upah riil yang menunjukkan daya beli justru turun 0,06 persen dari Rp85.567 menjadi Rp85.519 per hari. “Situasi agak berbeda dengan upah buruh bangunan karena pada Mei 2020 ada inflasi tipis 0,07 persen, sehingga upah riil upah bangunan turun 0,06 persen,” jelasnya.

Inflasi perkotaan turut melemahkan tingkat daya beli buruh potong rambut sebesar 0,06 persen dari Rp27.297 menjadi Rp27.282 per kepala pada bulan lalu. Hal ini terjadi karena upah nominal juga hanya naik 0,01 persen dari Rp28.607 menjadi Rp28.610 per kepala.

Begitu pula dengan daya beli asisten rumah tangga yang turun 0,06 persen karena upah riil turun dari Rp400.554 menjadi Rp400.327 per bulan. Pasalnya, upah nominal hanya naik 0,01 persen dari Rp419.780 menjadi Rp419.822 per bulan. (*)

BERITA REKOMENDASI