Denny Malik Dukung Seniman Masuk Sekolah

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pegiat seni nasional Denny Malik mendukung gerakan seniman masuk sekolah karena bisa mengembangkan kreativitas siswa sekolah.

"Saya sebagai seniman menyambut
baik sekali. Pawai ini juga sebagai gerakan seniman masuk sekolah,dan saya tidak pernah menyangka bakal  terpilih menjadi koreografer di kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional 2019",demikian disampaikan Seniman Denny Malik di  Kemendikbud, Senayan.

Denny Malik:Saya sebagai seniman menyambut
baik sekali. Pawai ini juga sebagai gerakan seniman masuk sekolah.

Sebelumnya, Denny Malik sudah membuat decak kagum saat menunjukkan bakat koreografinya dalam pagelaran tari ciptaannya di pembukaan Asian Games 2018 silam. Setelah sukses dan memukau warga Indonesia, kini Denny Malik pun kembali dipercaya untuk menciptakan gerakan tari Pekan Kebudayaan Nasional 2019.

"Gerak tari itu saya kirimkan ke perwakilan 34 provinsi agar mereka
belajar melalui guru seni di SD sampai SMA. Ada 460 anak yang ikut,
dan selama dua hari saya harus bikin koreografinya agar bisa dipakai
mereka," ujar Denny .

Koreografi tersebut akan dimasukkan ke dalam serangkaian agenda pawai budaya yang berjudul "Parade Digdaya Indonesia". Pawai budaya akan
digelar pada malam hari mulai dari Gedung MPR-DPR, kompleks Gelora Bung Karno, Ratu Plaza, dan berakhir di Kemendikbud Jakarta.

Sekitar 3 kilometer lebih lah dan ini tantangannya malam hari. Kita
harus bikin kostum yang kelihatan, dengan elektrik, LED, atau pakai
lampio. Ini tradisi tapi lebih high tech, permainan modern," jelas
Denny.

Denny Malik pun menyambut baik proyek besar kebudayaan ini. Selain itu, hal ini juga menjadi obsesinya sejak lama. "Saya sebagai seniman menyambutbaik sekali. Pawai ini juga sebagai gerakan seniman masuk sekolah, bahwa seni harus dimulai dari sekolah-sekolah," pungkas Denny Malik.

Acara ini digelar dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 pada 7-13 Oktober mendatang di Istora Senayan. "Sebagai seniman saya menyambut baik even PKN. Pawai yang dikoreografi nanti akan bertajuk Pawai Digdaya Indonesia. Tajuk ini untuk menunjukkan khazanah budaya yang dimiliki Indonesia, bahwa kita memang negara yang digdaya akan kebudayaan," kata Denny .

Pawai kali ini sangat berbeda karena dilaksanakan di malam hari. Ini merupakan tantangan sendiri, misalnya dari segi kostum. Belum lagi alat musik yang digunakan nanti serba tradisional.

"Sangat menarik untuk mengkoreografi paduan alat musik tradisional mulai dari talempong hingga suling bambu. Pawai nanti banyak menarik para seniman. Sudah banyak yang menghubungi untuk ikut serta, tentunya akan ditindaklanjuti," tuturnya.

Sementara Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyampaikan, PKN merupakan wujud implementasi dari agenda strategi pemajuan kebudayaan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) tahun 2019, yakni menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memerkuat kebudayaan yang inklusif.

“Setidaknya ada lima kegiatan utama dalam penyelenggaraan PKN, yaitu kompetisi permainan rakyat, konferensi pemajuan kebudayaan, ekshibisi kebudayaan, pergelaran karya budaya bangsa, dan pawai budaya” ujar Hilmar.
Kompetisi permainan rakyat berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan dari daerah hingga pusat. Melibatkan banyak pihak mulai dari provinsi hingga ke sekolah-sekolah. Sejumlah permainan rakyat yang dilombakan antara lain Gobak Sodor, Terompah Panjang, Egrang dan Lari Balok.
Untuk eksebisi kebudayaan akan ditampilkan Kekayaan Budaya 34 Provinsi, Intervensi Kementerian/Lembaga dalam Pemajuan Kebudayaan, Wastra Nusantara, Warisan Budaya Tak Benda, Warisan Dunia, hingga desa percontohan Pemajuan Kebudayaan.
Konferensi Pemajuan Kebudayaan akan membicarakan mengenai Pengetahuan Tradisional, Florikultura, Ekonomi Budaya, Asal usul DNA, hingga Ketahanan Pangan. Sedangkan pergelaran akan diisi dengan penampilan terbaik dari sejumlah seniman dan artis ternama, salah satunya Didi Kempot, Atta Halilintar.

"Pawai budaya menjadi kegiatan utama yang dinanti karena akan diikuti oleh 10,000 peserta, dan menampilkan Ritus Nyawiji, Suara Anak Bangsa dan Rampak Nusantara (640 GSMS), 200 Penari Indonesia Permai ,dan Variasi Baris berbaris," pungkas Hilmar. (Ati)
 
 
 

BERITA REKOMENDASI