Digitalisasi, Upaya Perpusnas Jaga Kelestarian Naskah Nusantara

Dalam data Grand Design Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas menyebut pada 2019, terhitung sebanyak 121.668 judul naskah Nusantara tersebar di dunia, sedangkan di Indonesia ada 82.281 naskah.

Sementara itu Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Munawar Holil menyatakan pada umumnya naskah Nusantara disimpan di perpustakaan, museum, dan keraton. Namun, ada banyak naskah Nusantara yang tersebar dan disimpan perorangan. Untuk koleksi naskah Nusantara yang ada di lembaga kondisinya sangat terawat, hal ini berbanding terbalik dengan koleksi yang ada di perorangan.

Pria yang akrab disapa Kang Mumun ini menambahkan, upaya penyelamatan informasi naskah Nusantara telah mengalami perubahan, meskipun proses penyalinan teks tetap dilakukan sampai saat ini. Mikrofilmisasi ada sejak tahun 1980 hingga 1990, sedangkan digitalisasi mulai dilakukan pada tahun 2000. Proses proses digitalisasi naskah Nusantara sudah dilakukan semua pihak, termasuk Perpusnas, namun jumlahnya masih jauh dari total naskah Nusantara yang ada di Indonesia. “Baru 10 persen naskah Nusantara yang didigitalkan. Jadi masih banyak PR kita,” jelasnya.

Sedangkan menurut Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud A.A.G.N Ari Dwipayana, lontar di Ubud diberlakukan sebagai benda sakral sehingga tenget (magis). Karena diperlakukan sebagai benda sakral, lontar tidak dibuka atau dirawat, bahkan hingga dimakan rengat. Namun, bagi keluarga yang hidup dengan tradisi nyastra, lontar justru sering dibuka, dibaca, dan dipakai sebagai bahan rembug sastra. Untungnya, Bali memiliki perhatian terhadap kelangsungan bahasa dan aksara Bali. Ini terlihat melalui lahirnya perda yang mewajibkan penulisan aksara Bali di ruang-ruang publik dan diangkatnya penyuluh bahasa Bali di setiap kecamatan.

Dijelaskan, Indonesia adalah bangsa yang mempunyai kekayaan naskah Nusantara (lontar) yang masih disimpan oleh keluarga. Dalam 34 tahun terakhir, Puri Kauhan Ubud berupaya untuk mengusung satu pendekatan yang berbasis pada keluarga di dalam perlindungan, pengembangan, dan pemajuan kebudayaan.

“Kita tidak bisa memajukan kebudayaan kalau tidak menyentuh keluarga, maka salah satu strategi besar yang harus dilakukan untuk melindungi warisan bangsa ini adalah dengan menggunakan keluarga,” tuturnya.

Kepala UPT Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Utami Budi Rahayu Hariydi mengungkapkan di perguruan tinggi, naskah merupakan sumber daya pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk bahan belajar-mengajar, observasi, dan riset. Saat ini, jumlah naskah yang disimpan di UPT Perpustakaan UI sebanyak 2.431 judul (2.331 berbentuk kertas dan 100 berbentuk lontar) dengan jumlah 2.731 eksemplar.

“Naskah hanya dikeluarkan dari penyimpanannya apabila memang diperlukan untuk kepentingan penelitian dan dengan pengawasan yang cukup ketat. (*)

BERITA REKOMENDASI