Diserang Covid-19, Sektor Manufaktur RI Jadi Loyo

JAKARTA, KRJOGJA.com – Sektor manufaktur mengalami kemerosotan sejak mewabahnya virus corona .

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro,pada acara virtual IEEETalk 2 : Achieving Intelligent Manufacturing with IIoT, Sabtu (3/10/2020).

Di Indonesia, sektor manufaktur mengalami kemerosotan sejak mewabahnya virus corona pada bulan Maret lalu.

Kondisi ini disebabkan penurunan daya beli konsumen domestik dan semakin diperparah oleh beban input dari impor.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih perlu ditingkatkan dari sisi daya saing.

Hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang kian menipis.

“Meski manufaktur masih mendominasi PDB, tapi porsinya semakin lama, semakin menurun. Urgensi Indonesia untuk memperkuat sektor manufaktur itu sudah terjadi sejak tahun 90-an yang sifatnya labor intensive​. Namun setelah krisis finansial Asia, tampaknya manufaktur kita mengalami penurunan kontribusi kepada PDB,” tutur Bambang saat acara virtual IEEETalk 2 : Achieving Intelligent Manufacturing with IIoT, Sabtu (3/10/2020).

Menristek/Kepala BRIN juga mendorong para insinyur untuk memperkuat kembali sektor manufaktur di Indonesia dengan inovasi.

“Indeks daya saing inovasi Indonesia masih berada pada peringkat 85 dari 131 negara. Posisi yang masih perlu kita tingkatkan dan menjadi tugas bersama berbagai pihak. Kalau melihat lebih jauh lagi, dari aspek inovasi tersebut, yang menjadi tantangan adalah pada RnD. Di samping faktor pendidikan, faktor Research and Development (RnD) juga masih menjadi penghambat kita menjadi negara yang inovatif,” ungkap Bambang.

Kunci dari keberhasilan transformasi digital industri manufaktur di Indonesia adalah sumber daya manusianya.

Berangkat dari sinilah mengapa beberapa tahun yang lalu, Honeywell bekerjasama dengan ITB, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia untuk membangun laboratorium belajar di masing-masing perguruan tinggi dan menghubungkan ketiganya via teknologi awan agar memungkinkan kolaborasi akademis terkait Industrial Internet of Things (IIoT).(ati)

BERITA REKOMENDASI