Disperindag Gelar OPM Beras di Gunungkidul dan Bantul

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY mengadakan Operasi Pasar Murni (OPM) beras di Gunungkidul dan Bantul sejak 10 hingga 15 Februari 2020. OPM beras tersebut langsung menyasar masyarakat atau konsumen, khususnya masyarakat prasejahtera alias kurang mampu.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto mengaku telah menggelar OPM beras di Gunungkidul. Dua kecamatan yang mengajukan OPM beras tersebut yaitu Tepus sebanyak 6 ton beras medium dan Semanu sebanyak 2 ton beras medium.

Sementara OPM beras di Bantul untuk dua kecamatan digelar 15 Februari mendatang. Kecamatan Dlingo sebanyak 605 kg dan Kecamatan Pajangan sebanyak 420 kg. “Masyarakat cukup terbantu karena harga beras sangat murah dibanding dengan di pasaran. Harga normal beras medium pasaran sudah mencapai Rp 10.000/kg di Tepus,” ujarnya.

Menurut Yanto, OPM beras tersebut digelar atas permintaan untuk kuota atau jumlahnya sesuai dengan pengajuan kabupaten/kota. Melalui OPM beras ini, beras medium dijual Rp 8.800/kg dalam bentuk kemasan 5 kg.

“Kami telah menyiapkan total 50 ton beras medium untuk OP di DIY selama setahun ini. Sasaran OPM beras lebih diutamakan masyarakat prasejahtera agar meringankan beban mereka,” tandasnya.

Sementara itu, komoditas bahan pokok (bapok) pangan di beberapa pasar tradisional masih mengalami fluktuasi pada pekan kedua Februari 2020. Fluktuasi harga masih dialami daging ayam broiler, telur ayam ras, cabai dan bawang putih kating.

Menurut Kepala Disperindag DIY Aris Riyanta, kenaikan harga dialami telur ayam ras dari Rp 22.- 500 menjadi Rp 23.700/kg dan daging ayam broiler dari Rp 32.300 menjadi Rp 32.700/kg. Sedangkan tekanan harga terjadi pada cabai merah keriting dari Rp 50.300 menjadi Rp 45.- 000/kg, cabai merah besar dari Rp 72.300 menjadi Rp 72.000/kg, bawang putih kating dari Rp 56.700 menjadi Rp 53.300/kg dan cabai rawit merah dari Rp 60.300 menjadi Rp 59.- 700/kg.

“Kenaikan harga telur ayam dan daging ayam broiler lebih karena masih tingginya permintaan konsumen. Sedangkan tekanan harga dipicu karena pasokan mulai mengalir masuk,” imbuhnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI