DIY dan Borobudur Tujuan Utama Wisman

JAKARTA, KRJOGJA.com – Propinsi DIY dan Borobudur masih merupakan daerah yang menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara berkunjung.

Demikian Gaura Mancacaritadipura, seorang dalang dan budayawan di Jakarta dan Don Hasman, fotografer senior, dalam bincang  Bijak Ala Kenali Nusantara Bersama dalam Temu Pejalan, di Jakarta , Sabtu (23/2).

Hal itu dikarenakan pemerintah Indonesia juga tengah menggiatkan pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism bekerjasama dengan organisasi pariwisata dunia (United Nation World Tourism Organisation/UNWTO). 
Kerjasama ini menitikberatkan pada pengemangan dunia pariwisata yang tidak hanya terfokus pada pengembangan ekonomi tapi pengembangan sosial dan lingkungan.

Salah satu wilayah yang digarap adalah Yogyakarta. Yogyakarta dipilih karena dianggap sesuai dengan nilai-nilai pengembangan Sustainable Tourism. "Pengembangan Kawasan Candi Borobudur dan candi-candi yang ada di sekitarnya adalah contoh yang tepat untuk membangun model pariwisata berkelajutan," ujarnya.

Selain merenovasi candi, membangun hotel juga aka nada peran masyarakat yang dikembangan untuk membuat oleh-oleh pelengkap yang merupakan ciri setempat. Bukan hanya oleh-oleh, tetapi juga kerajinan lokal yang layak harus dikembangkan sekaligus menjaga lingkungan. Masih banyak daerah lain di Indonesia yang layak dengan nilai Sustainable Tourism ini. Ada NTT, Wakatobi, Lombok dan daerah wisata lainya.

Himbauan yang selalu didengung-dengungkan Kenali Arkipchipelago Nusantara, tour operator yang lebih dikenal dengan nama KENALIenali Nusantara. Untuk terus mendorong agar setiap pejalan atau pelancong ketika berwisata menjadi pelancong bijak dengan menghargai kearifan lokal, lingkungan dan kuliner setempat.

Karena itu,  Kenali Nusantara  mengadakan acara bincang-bincang mengenai berwisata bijak dengan mengundang Don HAsman, fotografer senior dan  Gaura Mancacaritadipura, seorang dalang dan budayawan di Jakarta dan Don Hasman.

“Kegiatan Kenali NusantaraKENALI kali ini berupa Temu Pejalan, yang merupakan kegiatan rutin KenaliKENALI. Dalam kesempatan ini kita—para pejalan—bisa bercerita bertukar pengalaman dengan pejalan lainnya sekaligus berbjejaring dan berdiskusi tentang berwisata bijaksustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan,” ujar Meiske Demitria WahyuYou, CEO Kenali Nusantara.

KENALI dalam acara tersebut.
Dalam kesempatan ini, fotografer senior Don Hasman bercerita tentang pengalaman petualangan ekspedisinya di berbagai tempat di Indonesia. Fotografer senior ini banyak menunjukkan foto-foto yang menampilkan keindahan alam budaya.

Selain foto-foto alam nusantara yang indah, Don Hasman juga menceritakan bagaimana seharusnya seorang pejalan bersikap ketika berada di lokasi wisata. 

“Seorang pejalan haruslah menghargai kearifan lokal masyarakat setempat. Salah satu sikap apresiasi terhadap masyarakat setempat adalah dengan ikut menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak tempat wisata dan menghargai budaya setempat,” tandas Don Hasman.

Don Hasman banyak bicara tentang wisata fotografi, Gaura Mancacaritadipura lebih banyak bercerita tentang nila-nilai dan pelestarian budaya Indonesia. Ini berdasarkan pengalamannya menjadi dalang di Indonesia.

Gaura menilai bahwa ada keseimbangan antara budaya pewayangan  dan kearifan lokal dalam potret perkembangan pariwisata. “Budaya pewayangan bisa masuk dalam ranah pariwisata karena itu bagian dari kearifan lokal dan bisa dijadikan dalam satu tujuan pariwisata berkelanjutan,” tambah Gaura.

“Pariwisata berkelanjutan haruslah mendidik selain juga memberikan nilai tambah baik kepada pelaku maupun penikmat,” ujarnya.

Sustainable Tourism

Dalam dua tahun terakhir—dari surveiy yang dilakukan Mastercard Asia dan juga BPS (Biro Pusat Statistik), jumlah orang Indonesia yang berminat jalan-jalan meningkat signifikan. Jumlah wisatawan Indonesia yang melancong outbound maupun inbound terus melonjak. 

Sayangnya jumlah pelancong yang melonjak tidak berbanding lurus dengan perilaku negatif pelancong di tempat wisata. Pelancong tidak menjadi pelancong pintar dan bernalar saat melancong. Para pelancong ini menyebarkan virus buang sampah sembarangan.

Di Bandung, pada musim liburan, jumlah sampah hariannya bertambah dua kali lipat dibandingkan saat hari biasa. Pada hari biasa volume sampah sekitar 4 ton dan saat liburan volume bisa naik jadi 9 ton. Jadi jangan heran, kalau banyak daerah tujuan wisata menjadi kotor setelah musim libur usai. Padahal sekarang tengah digalakkan program-program pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism). (Ati)

 

BERITA REKOMENDASI