DPR Desak Pengembangan Vaksin Merah Putih Dipercepat

Sudah ada lebih dari 60 produk yang dihasilkan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 selama satu tahun. Produk-produk tersebut dikategorikan menjadi beberapa kategori,aspek pencegahan (suplemen kesehatan/ _imunomodulator_ herbal yang telah diuji secara bertahap, dan dikembangkan menjadi fitofarmaka).

Kemudian Aspek _screening_ (Uji CePAD Antigen dan GeNose C19),dan Aspek obat dan terapi ( _Mesenchymal Stem Cell_ dan Terapi Sel Punca),Aspek sosial dan humaniora.

 

 

Lebih lanjut menanggapi pertanyaan dari para anggota Komisi IX DPR, Menteri Bambang menyampaikan saat ini peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah berhasil mengembangkan alat deteksi cepat Covid-19 yang diberi nama GeNose C19.

 

“GeNose sudah diuji validasinya dengan 2.000 sampel dan akurasinya sudah 90 persen. Semakin banyak dipakai alat ini akan semakin akurat karena akan selalu di update oleh tim dari UGM. Namun, hadirnya GeNose ini bukan untuk menggantikan tes usap _polymerase chain reaction_ (PCR), hanya sebagai penyaring atau _screening_ saja,” jelas Menteri Bambang.

 

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengatakan, penelitian biomolekuler SARS CoV-2 merupakan hal penting karena menjadi salah satu modal kuat untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan di hulu penanganan Covid-19. Beliau mengatakan, ada lima hal yang tengah dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan dalam upaya mengurangi penularan Covid-19. Kelima hal tersebut adalah pengembangan jejaring laboratorium pemeriksaan Covid-19, penelitian biomolekuler SARS CoV-2, penelitian uji klinis obat, monitoring evaluasi efektivitas vaksin, serta penelitian diagnosis. Oleh karena itu, untuk melakukan evaluasi, Kemenkes akan melakukan tindakan implementatif lainnya untuk membuat laboratorium tersebut tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih merata, sehingga pemeriksaan lebih terkoordinasi, efektif, dan luas.

 

“Itu akan kami kerjakan sehingga _testing_ di Indonesia akan lebih menggambarkan hasil lebih spesifik seluruh wilayah Indonesia, karena saat ini masu terfokus di kota besar saja. Setelah _testing_, kemudian kita melakukan _tracing_, dan akhirnya menjadi _treatment_. Jadi testing adalah modal kuat untuk melakukan _tracing_,” paparnya.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan mendukung penelitian terkait Covid-19 melalui dana yang dialokasikan sekitar Rp700 Miliar untuk riset vaksin, alat kesehatan, obat-obatan dan _Whole Genome Sequencing_. “Saya sudah bilang kepada Ibu Sri Mulyani bahwa uang ini tidak akan semua ditaruh di Kemenkes tapi untuk penelitian sektor kesehatan,” ujarnya.

 

Terkait vaksin Merah Putih, Komisi IX DPR RI sendiri meminta Kemenristek/BRIN dan Kemenkes untuk berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses pengembangan vaksin ini dapat dipercepat.

 

Menteri Bambang menyebutkan bahwa pada akhir Maret tahun 2021 ini bibit vaksin dari LBM Eijkman akan diserahkan kepada PT Bio Farma untuk proses lebih lanjut. Pihaknya akan terus berupaya untuk mendorong percepatan vaksin bekerjasama dengan PT Bio Farma.

 

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menyebutkan salah satu kendala terkait pengembangan Vaksin Merah Putih adalah kesiapan industri. “Kendala yang bisa melakukan hilirisasi dari hasil penelitian saat ini baru ada Bio Farma yang siap. Tetapi kita harapkan bahwa ada beberapa perusahaan farmasi yang akan segera meningkatkan fasilitasnya sehingga bisa melakukan industrialisasi Vaksin Merah Putih ini,” ujarnya.

Turut hadir dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI tersebut Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio, Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Ali Ghufron Mukti, serta para anggota Komisi IX DPR RI yang hadir secara langsung dan virtual melalui zoom meeting.(ati)

BERITA REKOMENDASI