DPR Tolak Rektor Asing di Indonesia

JAKARTA, KRJOGJA.com -Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati menolak rektor asing menjadi rektor di PTN maupun PTS di Indonesia. Ide mendatangkan rektor asing untuk PTNBH semestinya dapat dihindari jika Kementerian Ristek dan Dikti dapat memetakan persoalan dan membuat solusi peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. 

"Gagasan lama ini ibarat jalan pintas dan instan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Padahal, kunci ada di pemerintah sebagai pihak regulator," kata Reni Marlinawati .

Hal itu selain akan bertabrakan dengan berbagai aturan seperti UU 14/2015 tentang Guru dan Dosen dan UU No 12/2012 tentang Perguruan Tinggi, rencana tersebut menunjukkan kurang maksimalnya Kementerian Ristek dan Dikti dalam membentuk sistem pendidikan tinggi yang visioner, ajeg dan adaptif dengan perkembangan jaman. 

"Padahal dengan kewenangan yang dimiliki, pemerintah semestinya dapat membentuk sistem yang ajeg, visioner dan adaptif dengan perkembangan jaman. Kita jangan latah dengan menempel salin cara yang diterapkan oleh negara lain dengan impor ," tegas Reni.

Wakil Ketua Umum DPP PPP ini mengingatkan pendidikan merupakan isu yang nenjadi perhatian konstitusi oleh para pendiri bangsa. Salah satu misi utama adanya negara ini, imbuh Reni, tak lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa."Bahkan di konstitusi secara tegas keberpihakan politik anggaran khusus untuk sektor pendidikan. Pesan moralnya, peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggungjawab negara," tegas Reni. .

Pendidikan tidak sekadar melakukan aktivitas transfer pengetahuan dan tradisi intelektual, namun lebih dari itu pendidikan juga melakukan aktivitas transfer nilai. "Ada nilai yang ditransfer dalam praktik pendidikan yakni nilai kebangsaan, keagamaan, kebudayaan, dan moral," cetus Reni.

Ia juga nenyinggung gagasan mengundang rektor asing ini juga bentuk ketidakpercayaan Kementerian Ristek dan Dikti atas SDM yang dimiliki anak bangsa. Menurut dia, jika spiritnya untuk melakukan transfer pengetahuan dan budaya kerja, hal tersebut dapat dipenuhi oleh putera Indonesia lulusan kampus ternama dari luar negeri. "Banyak putera Indonesia lulusan kampus ternama di luar negeri dapat menjadi alternatif. Ini soal rasa kebangsaan yang terusik," ingat Reni.

Di tempat terpisah Menristekdikti Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berencana membawa rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi. Menurut Nasir, dibawanya rektor asing ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang masih jauh dari harapan. "Di dalam negeri kita sudah baik, tapi ketika di luar negeri jauh lebih rendah apabila kita komparasikan," kata Nasir.

Dia menjelaskan, Indonesia harus belajar dari negara-negara lain. Didatangkannya rektor asing menurut Nasir akan membantu Indonesia dalam belajar memperbaiki pendidikan khususnya di perguruan tinggi.

Menurut dia, apabila dosen bersifat homogen maka perguruan tinggi tidak akan maju. "Rata-rata perguruan tinggi di Indonesia hampir homogen. Hampir semua dosen dalam negeri. Kalau perguruan tinggi luar sudah ada dosen asing yang terlibat di dalamnya meneliti dan bekerja sama, ini harus kita dorong," kata dia.

Saat ini, di negara lain fenomena rektor asing bukanlah hal yang aneh. Nasir menjelaskan, di Norwegia ada dosen dari Jerman dan kualitas perguruan tingginya meningkat. Di Singapura juga dilakukan hal demikian akhirnya universitasnya berada di tingkat 50 besar dunia. (Ati)

BERITA REKOMENDASI