Dunia Digital Menambah Tantangan dan Keuntungan Bagi UMKM

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menjadi pemilik UMKM produsen sektor pengolahan di Jawa Tengah dan Yogyakarta mendapatkan banyak kemudahan dan kenyamanan. Betapa tidak, daerahnya siap mendukung dalam perizinan maupun pemasaran.

Jika produknya adalah berupa hasil olahan yang ikonik dan mudah dijual, para agen dan distributor siap menjemput bola. Lewat Program Active Selling, kini mereka siap merambah pemasaran di dunia digital.

Kenyamanan bagi UMKM produsen sektor pengolahan tidak lantas membuat mereka terlena. Lewat Program Active Selling, para pemilik UMKM antusias menimba ilmu dan mempelajari tantangan yang dihadapi di dunia digital, tanpa meninggalkan moda pemasaran yang telah dijalankan. Pemasaan offline tetap dijalankan, pemasaran online ditingkatkan.

Mengikuti pendampingan untuk memaksimalkan pemanfaatan aplikasi-aplikasi digital, Ridwan Hamdani tengah fokus memproduksi pakaian batik. Ia bermaksud menjajal peruntungan dengan membuka toko online di marketplace.

Ridwan berharap dapat memasarkan produknya ke luar wilayah. “Selama pandemi, saya fokus di dunia fashion. Batik saya buat mengikuti tren, lalu saya beri kombinasi warna agar tidak monoton. Setelah barang jadi, langsung diambil oleh agen. Tidak perlu repot,” tuturnya, Sabtu (16/10/2021).

“Tapi saya penasaran juga sama digital, semoga nanti bisa memasarkan ke luar daerah (Solo) agar usaha saya lebih maju dan brand saya dikenal dengan luas,” sambung lelaki yang tinggal di sekitar stadiun Manahan ini.

Senada dengan Ridwan, adalah Budiyanti yang mengolah singkong menjadi oleh-oleh khas Solo, yakni Balung Kethek. Walaupun dinamai balung yang berarti tulang dan identik keras, keripik singkog yang diiris memanjang milik Budiyanti sangat diminati karena rasa dan kerenyahannya.

Balung Kethek Solo Ngangeni dapat dijumpai di etalase hotel dan dijual juga di toko retail moderen. “Komunitas saya beranggotakan 25 UMKM produksi dibawah naungan Disperindagkop. Kami selalu dibina dan diarahkan agar hasil olahan memiliki kualitas bagus, lalu dibantu juga pemasarannya,” Budiyanti.

Sebetulnya Budiyanti sudah memiliki akun di beberapa marketplace. “Saya ingin memaksimalkan akun-akun tersebut dengan berbekal keterampilan dan tips-tips yang diajarkan di Program Active Selling. Selama ini dari akun Google Bussiness sudah banyak yang nyanthol,” katanya.

I Nyoman Adhiarna, Direktur Ekonomi Digital Kominfo RI mengatakan, dunia digital membawa peluang baru bagi UMKM untuk memasarkan produknya secara lebih luas. “Pemasaran offline kan sudah berjalan, ya sudah itu dijaga dengan baik. Lalu dicoba yang online supaya bisa memasarkan produk ke luar daerah. Untuk memulainya memang banyak tantangan, tapi nanti kan bertambah pendapatannya. Nah kami fasilitasi dan dampingi kalau mau belajar pemasaran digital,” paparnya.

Program Active Selling yang digelar Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) adalah Program Pendampingan untuk 26 ribu pelaku UMKM produsen sektor pengolahan di 10 Kawasan Wisata Prioritas, termasuk di Jawa Tengah. Program oendampingan ini bertujuan untuk mencapai Active Selling dimana para pelaku UMKM diharapkan untuk aktif mengunggah foto produk lengkap dengan caption-nya di marketplace, berinteraksi dengan calon pembeli, dan bertransaksi secara online.

Selama enam bulan, para pelaku UMKM dibimbing para fasilitator terlatih dalam mengoptimalkan media sosial dan marketplace untuk kegiatan usaha, penggunaan kasir online dan agregator, serta pengenalan terhadap teknologi 4.0 secara gratis, bahkan disediakan paket data. Program pendampingan ini mendapat tanggapan yang positif dari para pelaku UMKM dan stakeholder setempat dan diharapkan dapat terus berlanjut di masa yang akan datang. (Imd)

BERITA REKOMENDASI