Faktor Kesenjangan Picu Krisis Qatar

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Krisis diplomatik antara Qatar dan negara di kawasan Timur Tengah diprediksi tak akan berlanjut hingga konflik fisik. Krisis diyakini muncul karena negara Timur Tengah ingin memperingatkan Qatar ihwal kecepatannya mereformasi bidang ekonomi dan politik dalam negeri.

Pengamat Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia M. Hamdan Basyar berkata, Qatar dapat peringatan dari negara-negara Timur Tengah karena dinilai terlalu maju berinovasi di sektor ekonomi dan politik. Menurutnya, kecemburuan atas kemajuan Qatar dimiliki Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

"Ini barangkali Arab merasa kurang suka sehingga perlu 'dijewer' untuk menurunkan kecepatan mereka untuk maju. Apalagi misalnya UEA juga merasa tersaingi secara ekonomi. Kemudian kenapa yang dituduhkan teroris, itu sebenarnya hanya alasan-alasan saja," kata Hamdan.

Hamdan menilai, posisi Qatar yang strategis secara geografis sebenarnya membuat negara itu tak bisa diblokade total. Sebabnya, negara itu masih memiliki akses ke Teluk Persia, dan memiliki hubungan baik dengan Iran yang berada di seberang Teluk tersebut.

"Qatar tak bisa diblokade karena dia terbuka sekali. Qatar belum akan tunduk, dia masih punya andalan. Perang ini saya prediksi tidak akan terjadi secara fisik," katanya. (*)

BERITA REKOMENDASI