Gempa Lombok, Aktivitas Nelayan Masih Lumpuh

LOMBOK, KRJOGJA.com – Gempa Lombok bagi warga di daerah pesisir, tidak hanya membuat rumah warga hancur, juga mereka  tidak bisa melakukan aktivitas mencari penghasilan. Gempa yang sering muncul dengan skala besar dalam satu bulan ini, mengakibatkan warga pesisir yang umumnya para nelayan takut melaut.  

Baca Juga: Hercules AU Akan Angkut Bantuan Pembaca ’KR’ ke Lombok

Kekhawatiran munculnya tsunami menjadi alasan mereka tidak melaut. Ketika sedang menjaring, memancing ikan di laut, muncul tsunami, maka ombak yang muncul bisa menyapu para nelayan. Selain itu, rasa was-was muncul, ketika tsunami datang, bagaimana nasib keluarga di rumah, sementara para nelayan sedang melaut. 

Masih seringnya gempa, warga pesisir lebih memilih berada di darat. Melakukan aktivitas membuat tenda darurat, atau membuat hunian sementara yang terdiri dari bangunan kayu dan ditutupi terpal. Dengan demikian, mereka bisa tidur dengan lebih enak, tidak berada lapangan terbuka bersama pengungsi lainnya. 

“Ada 90 persen warga merupakan nelayan. Sangat menggantungkan pengghasilan dari aktivitas melaut. Dengan kondisi seperti ini, aktivitas ekonomi mereka lumpuh,” ujar Ketua RT 01 Dusun Penyambutan, Desa Jenggala Kecamatan Tanjung, Kabupetan Lombok Utara, Syahdu. 

Baca Juga: Bangkitkan Semangat, Warga Diajak untuk Hilangkan Trauma

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga mengandalkan bantuan yang mereka terima. Baik dari pemerintah, maupun para dermawan yang mendatangi posko. Namun demikian, jumlah bantuan logistik yang datang tidak sebanding dengan jumlah warga yang menjadi korban. Sehingga masih dari cukup. 

“Ada pembagian mie instan dari pemerintah, 2 dos. Tapi untuk satu RT. Beras 2,5 kg per KK, namun habis dalam satu hari. Padahal bantuan beras kembali datang 3 hari lagi," ujar Syahdu yang diiyakan pula Ketua RT 03, Syukriyadi dan tokoh pemuda setempat, Muhifudin.

Setelah satu bulan sejak gempa pertama, ada beberapa warganya yang melaut. Mereka melaut karena kepepet, tabungan mereka yang kian menipis sedangkan cadangan logistik juga tinggal sedikit. Khawatir tidak ada lagi yang bisa dimakan. Namun ternyata, Jumat (31/8/2018) lalu muncul gempa. Malah pusat gempanya, persis di bawah lautan di mana tempat mereka mencari ikan. Beruntung gempa tidak berpotensi tsunami. 

Mereka berharap gempa terus mereda dan tidak muncul lagi. Sehingga bisa melaut kembali. “Ini memang masa sulit bagi kami. Terutama para nelayan. Apalagi kebanyakan nelayan kita hidupnya sangat terbatas,” ujar Muhifuddin.

Untuk mengisi kekosongan aktivitas, warga meratakan rumah yang hancur. Rumah yang rusak berat pun harus diratakan, karena sudah tidak layak huni lagi. Bongkahan bangunan kemudian diangkut ke pinggir jalan untuk diangkut oleh BPBD setempat.

“Memang belum banyak yang melakukan aktivitas pembongkaran rumah rusak, karena sangat terbatasnya peralatan yang dimiliki, seperti linggis, palu, sekop sampai dengan argo,” ungkap Muhifuddin.

Di Dusun Penyambutan, tidak hanya banyak rumah yang bancur, fasilitas tempat peribadatan juga hancur tekena gempa bumi. Warga banyak menggunakan masjid tidak hanya untuk aktivitas salat 5 waktu dan juga salat Jumat, juga untuk pengajian. Anak-anak dan remaja menggunakan masjid tersebut untuk mengenal dan memperdalam Alquran.

Meski masjid hancur, mereka tetap menjalankan aktivitas keagamaan, yakni di tenda darurat yang warga dirikan. (Jon)

BERITA REKOMENDASI