Guru Tampar Murid Banjir Dukungan Alumni, Ini Alasannya

KOTAWARINGIN BARAT (KRjogja.com) – Masih ingat kasus guru agama yang menampar enam anak didiknya lantaran tidak bisa menghafal sebuah surat di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kalteng) pada Jumat 6 Oktober lalu?

Isu yang bergulir sang guru pelajaran Alquran dan Hadist bernama Abdul Kadir itu mendapat teguran keras dari kepala sekolah dan Kemenag Kobar.

Sang guru isunya juga akan dikeluarkan dari sekolah tempatnya mengajar. Menanggapi isu tersebut, sejumlah alumni langsung berempati dan menggelar aksi dukung Pak Abdul Kadir dengan tanda #savePakKadir.

“Kami sebagai alumni MAN Kobar merasa terpukul atas kejadian yang menimpa pak Kadir. Sebagai guru memang pak Kadir keras, tapi beliau sebenarnya maksudnya baik. Pak Kadir menampar anak didiknya itu mungkin pelajarnya sudah tidak bisa diberitahu,” ujar seorang alumni MAN Kobar, Eli saat menggelar aksi dukungan kepada Pak Kadir di sekolah.

Ia berharap kepada pelajar agar tidak lembek dan cengeng dengan sedikit-sedikit lapor orangtua. “Seharusnya masalah kemarin tak perlu melebar jika keenam pelajar tersebut tidak mengadu ke orangtua masing masing. Dan justru orangtua membela sang anak. Semoga ke depan kasus seperti ini tak terulang lagi. Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, kalau hanya masalah sepele janganlah melapor kesana kemari.”

Saat menggelar aksi dukungan, puluhan alumni MAN Kobar membubuhkan tanda tangan di atas kain putih sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moril kepada Pak Kadir. Selanjutnya kain putih itu di pasang di halaman sekolah.

Sementara itu, Kepala Sekolah MAN Kobar Riyanto membantah jika pasca penamparan yang dilakukan oknum guru terhadap enam anak didiknya membuat Pak Kadir harus dikeluarkan dari sekolah.

“Isu itu tidak benar sama sekali. Yang benar hanya kita kasih teguran supaya tidak terulang lagi,” jawab Riyanto singkat.

Sebelumnya, kekerasan terhadap anak didik kembali terulang di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Kali ini dialami enam pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kobar oleh seorang oknum guru agama di sekokah tersebut.

Kekerasan fisik yang dilakukan oknum guru bernama Abdul Kadir tersebut dengan cara menampar keenam anak didiknya. Sontak orangtua pelajar tak terima dan mendatangi sekolah pada Sabtu 7 Oktober 2017 pagi.

“Ya memang kemarin (Jumat) terjadi insiden penamparan yang seharusnya tak terjadi, tapi sudah kita selesaikan baik-baik antara oknum guru dan wali murid tadi pagi di ruang kerja saya,” ujar Riyanto.

Ia menceritakan, kronolgis kejadian pada Jumat di kelas 11 IPS 3 ada mata pelajaran Alquran dan Hadist. Satu minggu lalu pelajar di kelas tersebut mendapat tugas dari guru Abdul Kadir untuk menghafal sebuah surat dan pada Jumat seluruh pelajar yang berjumlah 39 orang harus sudah hafal.

“Nah saat itu guru tersebut memanggil satu per satu pelajar untuk menghafal. Ternyata dari 39 anak hanya 3 anak yang bisa. Akhirnya ke 36 anak disuruh keluar kelas untuk belajar menghafal,” kata Riyanto.

Selanjutnya sang guru memanggil satu per satu pelajar masuk untuk menghafal, namu justru mendapati ada 6 pelajar dengan inisial A, G, M, H, I, dan Z (laki laki) bersendau gurau di luar bukannya belajar menghafal. “Didekati sang guru dan keenamnya ditampar hingga pipinya memerah. Kemudian mereka juga dijemur di lapangan,” bebernya.

Sesampainya di rumah, mereka melaporkannya kepada orangtua masing-masing. Dan pada Sabtu pagi para orangtua mendatangi sekolah untuk bertemu oknum guru tersebut dan kepala sekolah.

“Sudah saya tengahi dan mereka sepakat berdamai. Para orang tua pesan jangan diulang lagi. Jika diulang akan dilaporkan ke polisi. Kalau secara internal saya beri teguran keras terhadap oknum guru tersebut. Saya beri arahan supaya tidak main tangan ke pelajar. Harus sabar,” jelas kepala sekolah. (*)

BERITA REKOMENDASI