Habibie Ajak Anak Indonesia Miliki Pola Makan Sehat

JAKARTA, KRJOGJA.com –  Guna menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2018, The Habibie Center ingin mengingatkan pentingnya penerapan pola makan sehat sejak kecil. Salah satu caranya adalah dengan mempertemukan sosok inspiratif yang dapat memotivasi anak untuk tumbuh sehat dan menjadi anak yang cerdas, yaitu Presiden Ke-3 Republik Indonesia Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. 

"Kesehatan dan pendidikan anak menjadi pilar penting dalam kualitas hidup anak, kemajuan sumber daya manusia dan bangsa Indonesia. Saya sangat senang bisa bertemu dengan perwakilan anak-anak Indonesia menjelang HAN 2018 untuk mengajak mereka mengonsumsi makanan sehat sejak kecil," ungkap  Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie sebagaimana keterangan persnya, Rabu (18/07/2018).

Menurut Habibie kualitas hidup seorang anak merupakan faktor penting yang dapat menentukan perkembangan bangsa dan masyarakatnya. Untuk mendukung kualitas hidupnya, pemenuhan kebutuhan nutrisi yang seimbang sejak kecil menjadi salah satu faktor kunci agar anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi orang yang cerdas, kuat dan siap bersaing dengan negara lain.  

Selain pola makan sehat, Bapak B.J. Habibie menghimbau anak-anak Indonesia sebaiknya rutin mengkonsumsi air yang cukup dan rajin melakukan aktivitas fisik.  "Seperti saat kecil saya suka berenang. Hal tersebut juga berkaitan dengan Hak Anak yang diatur dalam Undang-Undang dan memerlukan dukungan banyak pihak untuk merealisasikannya."

Dokter Anak Sub Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik Pada Anak, DR. Dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K) yang mengatakan, dalam pemenuhan nutrisi, masa anak-anak merupakan masa krusial yang berlangsung sangat pendek dan tidak dapat diulang lagi. 

"Pola makan sehat dan seimbang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yang optimal. Seorang anak yang kurang gizi akan mengalami hambatan perkembangan fisik dan kognitif sehingga berakibat pada rendahnya tingkat produktivitas di masa dewasa."

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang masih memerlukan perhatian khusus dalam hal kecukupan gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar lebih dari 37,2 persen atau 8,4 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.

Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami masalah gizi pada 2017 mencapai 17,8 persen, sama dengan tahun sebelumnya.3 Salah satu sebabnya adalah rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya gizi dan nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak ke depannya. (*)

BERITA REKOMENDASI