Hadapi Asesmen Nasional Pengganti UN, Siswa tidak perlu ikut Bimbel

AKM bakal menguji capaian belajar kognitif dari siswa. Terdapat dua aspek yang bakal diuji yakni literasi dan numerasi. Artinya AKM bakal menakar kemampuan siswa dalam memahami dan mengimplementasikan bacaan serta hitungan.

“Fokus kepada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran. Justri membantu murid mempelajari bidang ilmu lain. Terutama berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis, angka atau kuantitatif,” jelasnya.

Survei karakter bakal menguji capaian hasil belajar sosial dan emosional siswa. Tolok ukur yang dipakai adalah profil pelajar pancasila yang disusun Kemendikbud.

Ini meliputi enam indikator penilaian karakter yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kebhinekaan global, kemandirian, gotong royong, bernalar kritis dan kreatifitas.

Kemudian Survei Lingkungan Belajar dilakukan untuk mengevaluasi dan memetakan pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Nadiem mengatakan pihaknya bakal memberikan hasil Asesmen Nasional kepada sekolah dan Dinas Pendidikan. Fungsinya untuk mengevaluasi kekurangan dan kekuatan tiap sekolah dan siswa.

“Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar. Baseline dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan. Sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah maupun murid,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Nadiem memutuskan menghapus UN sejak 2020 dan menggantinya dengan Asesmen Nasional. Asesmen Nasional pengganti UN 2021 dibuat dengan pendekatan yang menyerupai Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) yang digunakan untuk mengevaluasi pendidikan secara global.

Sebaiknya guru dan sekolah  dilibatkan .

Di tempat terpisah Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin berpendapat guru dan kepala sekolah seharusnya juga diikutkan dalam assesmen nasional ini  agar acuan kebijakan di pendidikan dapat dipetakan secara menyeluruh.

“Seharusnya asesmen itu juga dilakukan ke guru, sesuai mata pelajaran, jenjangnya. Secara nasional dilakukan. Kalau mau lebih bagus lagi kepala sekolah juga diukur. Karena banyak riset mengatakan leadership itu mempengaruhi kualitas pendidikan,” ungkapnya.

Masalah pendidikan di Indonesia sesungguhnya berakar pada kualitas guru dan kepala sekolah yang belum mumpuni. Untuk itu, asesmen atau penilaian ini tak bisa hanya dilakukan terhadap siswa.(ati)

BERITA REKOMENDASI