Harga Batu Bara ‘Rontok’

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – PT Bukit Asam (Persero) Tbk bakal menempuh upaya efisiensi untuk mengurangi tekanan beban biaya, terutama di tengah fluktuasi harga batu bara. Efisiensi yang akan dilakukan fokus pada pengendalian produksi.

"Kami harus meningkatkan efisiensi, tidak ada cara lain," ujar Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin.

Ia melanjutkan apabila ingin berbisnis, namun harga bahan bakunya tidak bisa dikontrol, seperti batu bara, maka satu-satunya cara adalah mengendalikan beban biaya produksi.

Di Bukit Asam, beban biaya terbesar berasal dari biaya penambangan, yaitu sekitar 40 persen hingga 50 persen. Diikuti oleh beban biaya transportasi logistik.

Menurut dia, dua beban biaya tersebut di atas bisa lebih efisien. Bahkan, ia optimistis, efisiensi terhadap biaya-biaya itu dapat dilakukan tanpa kebijakan atau regulasi dari pemerintah.

"Saya kira ini bisnis. Jadi, tidak boleh mendistorsi pasar dan peningkatan bisnis diserahkan kepada masing-masing perusahaan," imbuh dia.

Ia merinci beban pokok penjualan Bukit Asam hingga September 2019 sebesar Rp10,5 triliun atau naik 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp9,4 triliun.

Dengan komposisi dan kenaikan terbesar berasal dari biaya angkutan kereta api, seiring dengan peningkatan volume batu bara dan biaya jasa penambangan karena kenaikan produksi. (*)

BERITA REKOMENDASI