Harga BBM Nonsubsidi Bisa Tekan Inflasi

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mendukung penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang dilakukan akhir pekan lalu, karena dianggap dapat meringankan beban kenaikan harga barang (inflasi) pada Februari 2019.

Berdasarkan tren, pergerakan harga BBM nonsubsidi cukup signifikan terhadap inflasi bulanan. Hanya saja menurut Darmin, pemerintah masih perlu menghitung kembali dampak pasti dari penurunan harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2018 mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok transportasi, jasa keuangan, dan komunikasi meningkat 0,28 persen gara-gara kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ini menjadi salah satu biang keladi utama inflasi Februari tahun lalu yang mencapai 0,99 persen.

Tren itupun kembali terjadi pada Oktober lalu, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencatat inflasi bulanan sebesar 0,42 persen dan berkontribusi terhadap inflasi sebesar 1 persen. Penurunan harga BBM nonsubsidi pada Januari lalu memberi andil deflasi sebesar 0,04 persen, sehingga akumulasi inflasi Januari bisa tertahan di level 0,32 persen secara bulanan.

"Tentu saja, penurunan harga BBM ini positif. Tapi seberapa besar dampaknya ke inflasi, nah ini yang masih perlu dihitung," jelas Darmin.

Penurunan harga BBM nonsubsidi tentu diharapkan bisa mendorong daya beli masyarakat. Sehingga menurut Darmin, penurunan harga BBM nonsubsidi ini juga berdampak baik bagi pertumbuhan konsumsi.

Pertumbuhan konsumsi bisa menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I ini. Menurut Darmin, penurunan harga BBM ini bisa melengkapi dorongan konsumsi yang dilakukan masyarakat pada masa-masa kampanye pemilu presiden. (*)

BERITA REKOMENDASI